Kronologi Pengeroyokan Wendi Versi Praja IPDN

Kronologi Pengeroyokan Wendi Versi Praja IPDN

- detikNews
Selasa, 24 Jul 2007 18:02 WIB
Sumedang - Sebab musabab tewasnya Wendi Budiman (21) di tangan praja IPDN masih simpang siur. IPDN jadi pihak yang terpojok. Tiga purna praja IPDN berupaya meluruskan peristiwa yang sebetulnya terjadi.Ketiga purna praja itu adalah Gondo Widodo, Megawati, dan Andi Irmayanti. Ketiganya menjadi saksi kasus yang kini ditangani Polres Sumedang itu.Mereka membeberkan kronologi tersebut dalam jumpa pers di lobi Hotel La Fansa yang berada persis di depan Kampus IPDN, Jalan Raya Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (24/7/2007).Dibeberkan Gondo, sekitar pukul 22.00 WIB, Sabtu 21 Juli, dia bersama Mega, Irma, dan Bambang berniat main biliar di lantai 2 pusat pertokoan Jatinangor Town Square (Jatos).Mereka naik lift dari lantai dasar. Setelah sempat tertutup, pintu lift tiba-tiba terbuka lagi. Saat itu masuk 5 orang yang menurut Gondo berpenampilan seperti preman, karena berbau alkohol, rambut dicat warna warni dan telinga mereka memakai anting."Saya melihat gelagat kurang bagus, karena mereka meracau dan mabok berat. Saya lalu ngasih kode kepada Mega dan Irma yang berada di belakang agar berdiri di samping saya," tutur Gondo.Gondo menduga kelima orang tersebut tidak suka dengan tindakannya. Hal itu terbukti salah satu di antara kelima orang itu sengaja menyundutkan rokok di tengkuk Gondo. Hal itu disaksikan Irma.Gondo sempat memperlihatkan luka bekas sundutan rokok tersebut yang menimbulkan luka lecet hitam."Kemudian, entah sengaja atau tidak orang yang menyundutkan rokok ke saya menjatuhkan rokoknya. Karena saya kesal dan sakit, rokok yang jatuh saya injak hingga mati," ujar dia.Kemudian, imbuh Gondo, satu orang yang berdiri di belakangnya, entah yang menyundutnya atau bukan, langsung memiting kepalanya dan memukulinya. Kepala Gondo sempat ditundukkan. Saat itu teman-teman sang pelaku ikut mengeroyoknya.Tiga rekan Gondo tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadiannya sangat cepat. Posisi Bambang, menurutnya, juga terhalang orang-orang tersebut.Beberapa saat kemudian lift terbuka di lantai 3, Bambang kemudian menahan pintu lift. Mega dan Irma memanfaatkan kesempatan itu untuk lari ke luar lift. Sementara Bambang berusaha menariknya ke luar."Saya berusaha keluar dan saat keluar kepala saya masih dipiting," katanya.Mega dan Irma kemudian berteriak-teriak minta tolong. Gondo kemudian melihat sekelompok orang keluar dari biliar dan menolongnya. "Saya tidak kenal mereka. Saya sendiri langsung diamankan ke ruang biliar," katanya.Gondo mengaku tidak tahu siapa di antara kelima orang yang mengeroyoknya yang bernama Wendi. "Pokoknya yang mukul saya yang paling tinggi dan tangannya panjang," kata dia.Sebelum datang bala bantuan, imbuh Gondo, sekuriti Jatos sempat berupaya melerai. Namun karena si jangkung mabok, pukulan ke kepala Gondo tidak berhenti. Akibat pukulan itu, mata kanan Gondo mengalami luka lebam. Di wajahnya juga terdapat beberapa goresan."Mungkin kalau saya tidak ditolong, sudah mati karena dikeroyok secara brutal," ujarnya.Kesaksian MegawatiPenjelasan Gondo diamini rekannya, Megawati. Mega mengaku panik menyaksikan pengeroyokan terhadap Gondo."Saya panik lalu manggil orang yang ada di biliar karena lihat sekuriti tidak bisa melerai perkelahian. Kami semua kemudian masuk ke biliar," katanya.Setelah itu, imbuh Mega, mereka tidak melihat aksi wasana praja terhadap orang yang kemudian diketahui bernama Wendi Budiman.Di kantor polisi, Mega sempat dipertemukan dengan orang-orang yang satu lift dengannya. Namun dia tidak melihat orang yang telah memiting Gondo."Tapi saat pulang, pas di luar, kita lihat orang yang memiting Gondo sedang duduk-duduk sambil memegang kepala. Dia kelihatan masih sadar," ujarnya. (umi/sss)


Berita Terkait