Arief Rachman Prihatin 'Mental Otot' Praja IPDN
Selasa, 24 Jul 2007 10:59 WIB
Jakarta - Wendi Budiman (21), pengojek di Jatinangor, Sumedang, tewas di tangan sejumlah praja IPDN. Kekerasan yang tidak berubah di kampus itu membuat pakar pendidikan Arief Rachman prihatin."Saya ikut prihatin. Pendidikan itu kan pembentuk watak, kalau watak sudah terbentuk, untuk menghilangkannya makan waktu," cetus mantan anggota Tim Evaluasi IPDN itu kepada detikcom, Selasa (24/7/2007).Apalagi, imbuh Arief, rekomendasi Tim Evaluasi IPDN yang disampaikan kepada Presiden SBY beberapa waktu lalu belum dikerjakan tuntas di kampus pencetak birokrat itu.Padahal salah satu rekomendasi yang dinilai bisa mengubah watak praja IPDN adalah pembinaan olah perasaan atau kalbu untuk mengimbangkan olah otak dan otot yang mendarah daging di kampus itu. "Jadi kita harus siap mendengar lagi apa yang terjadi besok dan yang akan datang," kata Arief.Sebab selama bertahun-tahun praja IPDN dibina dengan kekerasan, sehingga untuk mengubahnya akan memakan waktu lama."Karena yang tersisa ini sudah menyerap pembentukan yang saya pikir keliru. Lebih pada pembinaan otot, terlalu otak kiri, otak kanannya kurang," ujar dia.Karena itu, Arief mengimbau semua pihak yang berkaitan dengan keberadaan IPDN segera mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan praja-praja yang tersisa di Jatinangor.
(umi/nrl)











































