Rektor IPDN Maklum Jika SBY Absen dalam Pengukuhan Wisuda

Rektor IPDN Maklum Jika SBY Absen dalam Pengukuhan Wisuda

- detikNews
Senin, 23 Jul 2007 21:00 WIB
Jatinangor - Sudah menjadi tradisi 2 tahun terakhir, pengukuhan wisuda praja IPDN yang digelar setiap bulan Agustus selalu dihadiri presiden. Plt Rektor IPDN Johanis Kaloh mengaku maklum jika Presiden SBY kali ini absen dalam pengukuhan. "Jika saya ditanya, sebagai plt rektor saya sungguh menyayangkan jika beliau tidak datang. Namun jika saya memposisikan sebagai presiden, hal itu maklum saja dengan tekanan politis di mana-mana," ujar Johanis ketika ditanya tanggapannya mengenai kemungkinan presiden tidak menghadiri pengukuhan nanti.Hal itu diungkapkan dia di Kampus IPDN Jatinangor, Jawa barat, Senin (23/7/2007).Ketika ditanya perasaannya mengenai berbagai kasus kekerasan yang tak henti-hentinya menimpa IPDN, Johanis mengaku sangat berat memimpin sekolah pencetak pamong praja tersebut. "Tiga bulan ini sangat berat," keluhnya.Pasca kematian Praja asal Sulawesi Utara Cliff Muntu pada 2 April 2007 akibat penganiayaan oleh seniornya, 26 Mei 2007 sekitar 5 ribu praja mencetak sejarah. Mereka menuliskan pernyataan moral di spanduk putih sepanjang 4700 meter yang kemudian masuk rekor MURI. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, yaitu melakukan tindakan kekerasan. Namun, hanya satu bulan kemudian terjadi kekerasan lagi yang dilakukan oleh pengasuh Munawir terhadap Nindya Praja Yogie yang mengakibatkan matanya dioperasi kornea.Kekerasan di lingkungan kampus mungkin saat ini sudah terhenti. Namun kini kekerasan mulai menjalar ke luar kampus. Hanya karena kesalahpahaman, seorang warga Jatinangor Wendi Budiman meninggal akibat dikeroyok sedikitnya 10 praja. Menilik berbagai kejadian tersebut, tampaknya rekor MURI untuk spanduk pernyataan moral terpanjang akan dicabut. Sesuai komitmen pendiri MURI, Jaya Suprana, yang menyatakan akan mencabut rekor tersebut jika di kemudian hari terjadi lagi kekerasan. (ern/bal)


Berita Terkait