Mengintip Denyut 'Terminal' Omprengan di Benhil
Jumat, 20 Jul 2007 15:13 WIB
Jakarta - Sekitar empat jam setelah demo angkot pelat kuning usai pada Kamis 19 Juli kemarin, denyut angkot pelat hitam alias omprengan, tetap tak terganggu. Salah satu "terminal" omprengan yang terletak di kawasan kampus Unika Atma Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, tetap riuh didatangi komuter. Kawasan ini juga disebut sebagai Benhil (Bendungan Hilir), mengacu nama jalan di seberang "terminal" ini.Ada empat rute yang dilayani oleh omprengan di sini, yaitu jurusan Bekasi Barat, Bekasi Timur, Cileungsi dan Jatiwarna."Terminal" ini menempati lahan parkir yang ada di samping kampus. Belum jelas bagaimana mulanya areal parkir ini bisa berubah fungsi menjadi "terminal" omprengan sejak beberapa tahun yang lalu. Namanya juga lahan parkir, tempat itu pun dilengkapi mesin parkir elektronik seperti yang biasa ditemui di pusat perbelanjaan moderen. Setiap mobil omprengan yang masuk ke sini harus mengambil karcis parkir.Berbeda dengan di terminal mobil pelat kuning, di sini tidak ada papan penunjuk jurusan atau papan informasi apa pun. Gantinya, beberapa orang tampak meneriakkan empat jurusan di sekitar mobil yang siap berangkat."Jatiwarna Bekasi! Berangkat...berangkat!" teriak mereka sambil melambaikan tangannya memanggil para calon penumpang.Di dalam "terminal" ini puluhan mobil omprengan berderet sesuai dengan jurusannya masing-masing. Mayoritas mobil berjenis Carry dan yang setipe. Penampilannya tak berbeda dengan mobil pribadi. Tak ada stiker atau tanda-tanda khusus yang menunjukkan mobil-mobil itu adalah mobil angkutan umum. Sehingga jika diparkir di "terminal", sepintas orang akan menyangka deretan mobil itu adalah mobil pribadi.Penumpangnya beragam. Namun rata-rata adalah para pekerja yang berkantor di wilayah segitiga emas Jalan Gatot Subroto, Jalan MH Thamrin dan Jalan Rasuna Said. Jam sibuk di "terminal" ini terjadi setiap jam pulang kantor antara pukul 16.00-18.00 WIB. Namun tidak terlihat para penumpang yang menunggu mobil seperti layaknya di shelter busway atau di halte-halte bus reguler. Jumlah penumpang tampak sebanding dengan jumlah mobil.Begitu tiba di "terminal", calon penumpang langsung masuk ke dalam mobil yang dituju. Tak perlu menunggu lama, mobil tersebut langsung berangkat. Pantauan detikcom, setiap 3-5 menit satu mobil diberangkatkan.Setiap mobil rata-rata penuh dengan penumpang. Kadang jumlahnya melebihi kapasitas untuk mobil minibus. Jika biasanya mobil minibus hanya diisi 9 orang, dengan perincian satu orang duduk dengan sopir di depan, tiga orang di kursi tengah dan empat orang di kursi belakang, namun untuk mobil omprengan penumpang bisa mencapai 12 orang.Rinciannya, dua orang duduk bersama sopir di depan, empat orang di tengah dan enam orang di belakang. Walau berjejalan, sejumlah penumpang merasa lebih nyaman daripada harus lama menunggu bus plus bergelantungan dan berdesak-desakan di dalam bus."Naik bus lebih parah desak-desakannya, Mas! Saya nggak pernah dapat duduk," kata Susan, seorang penumpang yang tinggal di Pondok Gede, Bekasi, kepada detikcom di depan "terminal" yang dilindungi pagar seng itu."Masih lebih enak naik ini (omprengan)," tambah gadis berambut sebahu yang bekerja di di Plaza Semanggi ini.Susan juga mengaku tidak masalah dengan ongkos omprengan yang mencapai Rp 8.000. "Yaa, tidak apa-apalah, daripada kelamaan ngetem dan harus berdiri," tutupnya.
(rdf/nrl)











































