Kartunis Australia Takut ke Bali

Kartunis Australia Takut ke Bali

- detikNews
Rabu, 18 Jul 2007 13:15 WIB
Denpasar - Bagi para kartunis Australia, sebenarnya Bali merupakan tempat yang asyik untuk mencari inspirasi. Namun, setelah pemerintah Australia mengeluarkan travel advisory, datang ke Bali merupakan sesuatu yang menakutkan bagi mereka. Seharusnya, sekitar 36 kartunis asal Australia akan datang ke Bali mengikuti Eksibisi Kartun Internasional Indonesia-Australia dalam Sanur Village Festival 16 Agustus 2007 mendatang. Namun, karena terbit travel advisory, hanya 4 kartunis negeri Kangguru yang berani datang ke Bali. Batalnya puluhan kartunis ke Bali ini disampaikan Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) Adek Janggo Paramartha di sela-sela jumpa pers tentang 'Sanur Village Festival' di Griya Santrian, Jl. Danau Tamplingan, Sanur, Denpasar, Rabu (18/7/2007). Menurut Janggo, pada awalnya 36 kartunis Australia sudah bersedia datang ke Bali untuk menghadiri acara itu. Namun, setelah beredar berita tertangkapnya tersangka terorisme Abu Dujana, 20 kartunis Australia membatalkan menghadiri acara ini. Saat itu, masih lumayan, ada 16 kartunis Australia yang masih bersedia datang. Namun, jumlah kartunis Australia yang bersedia datang ke Bali menyusut kembali menjadi 4 orang setelah Australia mengeluarkan travel advisory. Sala satu kartunis Australia yang tetap akan hadir di Bali adalah Wakil Presiden Australia Cartoon Association, Rolf Heimann. "Alasan mereka tidak datang, saya tidak mengerti. Tapi, beginilah dunia pariwisata di Bali, masih terpengaruh oleh faktor keamanan," tutur Janggo. Meski hanya akan dihadiri 4 kartunis Australia, acara Eksibisi Kartun Internasional Indonesia-Australia tetap akan dilangsungkan. Janggo berharap dengan adanya pameran kartun ini, hubungan Indonesia dengan Australia yang akhir-akhir ini tegang, bisa hangat lagi. "Sebab, menurut kartunis Australia, tidak satu pun tempat di Bali yang tidak menghadirkan inspirasi," tutur dia. Eksibisi kartun ini direncanakan memamerkan 150 karya kartun Indonesia dan Australia dengan mengambil tema Pantai Sanur. Janggo kecewa karena acara yang digagasnya ini tidak mendapat dukungan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik. "Kami telah mengusulkan proposal ke Menbudpar, namun ditolak. Seharusnya acara seperti ini mendapat dukungan dari Budpar," harap dia. (asy/nrl)


Berita Terkait