ABG Bandung Malam Nongkrong, Pagi Gantung Diri
Rabu, 18 Jul 2007 11:41 WIB
Bandung - Entah apa yang ada di pikiran Feri Ginanjar (14). Tanpa meninggalkan pesan, ABG ini memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di bengkel sang ayah.Keputusan warga Kampung Bojong Koneng, RT 4/8, Desa Nanjung Mekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, ini membuat syok ayahnya, Sofyan. Sebab sejak usia 6 tahun, Feri dan kedua adiknya dirawat Sofyan. Hal ini terjadi setelah Sofyan bercerai dengan Yuyun Yuningsih (31), ibu Feri. Sedangkan Yuyun saat ini menetap di desa tetangga.Kepada wartawan, Yuyun yang ditemui di RS Hasan Sadikin, Bandung, Rabu (18/7/2007), menuturkan dia mendengar kabar kematian putra sulungnya itu sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu putri bungsunya Neng Yusi (10) datang tergopoh-gopoh menemuinya. "Dia bilang, mamah kata bapak suruh ke rumah," tutur Yuyun yang terlihat tegar.Sampai di rumah mantan suaminya, Yuyun mendapati Feri sudah terbujur kaku dan ditutup kain. Dia sempat bertanya penyebab kematian Feri. Dari penjelasan mantan suaminya, Feri ditemukan gantung diri sekitar pukul 04.00 WIB di garasi rumahnya yang dijadikan bengkel.Sebelumnya, tutur Yuni, mantan suaminya tidak mengira Feri akan bunuh diri, karena tidak ada kejadian besar yang memicu anaknya bertindak seperti itu."Dia kan biasanya tidur sama bapaknya. Nah ketahuannya tadi pagi pas bangun, dia sudah nggak ada. Bapaknya terus ke bengkel, tapi bapaknya merasa aneh kok gelap biasanya terang," tutur Yuyun.Sofyan kemudian memencet stop kontak, tapi lampu tidak menyala. Ketika di cek bola lampu, ternyata posisinya kendor. Sofyan kemudian mengencangkan posisi bohlam. Saat lampu menyala, dia kaget melihat anaknya sudah gantung diri.Saat itu Sofyan masih mendengar Feri bernafas tersengal-sengal. Dia kemudian buru-buru mengambil golok dan memutus tali yang diikatkan ke leher Feri. Namun terlambat, nyawa Feri tidak bisa diselamatkan."Dia (Sofyan) syok sekali. Sekarang di rumah, pingsan terus," ujar Yuyun.Dari informasi yang diperolehnya, imbuh Yuyun, malam harinya Feri sempat keluar rumah bersama tiga rekannya. Bapaknya sempat memberi sangu Rp 20 ribu. Belakangan uang tersebut ternyata dibagi-bagikan ke teman-temannya.
(umi/nrl)











































