Boikot Haji Didukung, Madinah - Makkah Jadi Kawasan Internasional

Boikot Haji Didukung, Madinah - Makkah Jadi Kawasan Internasional

- detikNews
Selasa, 17 Jul 2007 16:05 WIB
Jakarta - Wacana Menteri Agama Maftuh Basyuni untuk tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini ke Arab Saudi harus didukung. Bila boikot haji ini benar-benar direalisasikan, maka tuntutan Makkah dan Madinah diinternasionalisasikan akan lebih cepat terwujud. "Setuju banget," Wakil Ketua Komisi VIII DPR Said Abdullah saat dihubungi detikcom, Selasa (17/7/2007) saat ditanya apakah setuju dengan wacana Menag untuk tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini bila Arab Saudi melarang pesawat Indonesia. Menurut Said, seharusnya Indonesialah yang melarang pesawat Saudia Airlines memasuki Indonesia. "Saya punya data, dalam dua tahun terakhir, Saudia selalu terlambat dalam memberangkatkan jamah haji," kata Said. Tahun 2005, penerbangan Saudia mengangkut jamaah haji rata-rata mengalami delay selama 27 jam. Sedangkan pada tahun 2006, delay Saudia Airlines meningkat tajam menjadi 31 jam. "Jadi, seharusnya pemerintah Indonesia yang melarang pesawat Arab Saudi lebih dulu, karena performans-nya jelek. Problemnya, selama ini ada ketentuan antara pemerintah kita dan Arab Saudi untuk menggunakan pesawat Saudia Airlines dalam pengangkutan jamaah haji," tutur politisi yang selalu memperhatikan masalah haji ini. Trik Abu JahalSaid melihat upaya Arab Saudi untuk melarang pesawat Indonesia hanyalah merupakan trik Abu Jahal. "Ini trik-trik Abu Jahal yang dipakai Arab Saudi. Sebab, Arab Saudi selama ini kesulitan dalam memberlakukan royalti kepada para penumpang yang tidak diangkut Saudia. Arab Saudi menuntut US$ 50 per penumpang," tegas politisi dari PDIP ini. Said yakin wacana Arab Saudi yang berencana melarang pesawat Indonesia ini terkait dengan permainan bisnis itu. "Tidak ada lain. Kalau kita stop haji dan umrah, maka yang rugi adalah Arab Saudi," ujar dia. Sebenarnya, kata Said, di forum internasional, sudah muncul wacana Makkah dan Madinah agar tidak dimasukkan ke dalam wilayah Arab Saudi. Istilahnya 'diinternasionalisasi.' Sebab, dua kota suci itu adalah kepentingan semua umat muslim. "Jadi nanti otorisasinya oleh kedaulatan internasional, gabungan dari negara-negara muslim. Selama ini yang menyuarakan adalah Iran dan Libya. Indonesia masih menjadi anak manis dan berdiri di belakang Arab Saudi. Kalau sampai pesawat kita dilarang, maka Indonesia harus mendukung internasionalisasi ini," jelas dia. Bila Indonesia mendukung internasionalisasi Makkah dan Madinah, menurut Said, maka hal ini akan cepat terealisasi. Karena itulah, Said tidak yakin Arab Saudi berani melarang pesawat Indonesia. "Kalau haji dan umrah kita boikot, maka Arab akan rugi. Warga Makkah dan Madinah bisa hidup, gara-gara dari haji dan umrah," ungkap dia. (asy/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait