Pesimisme dan Optimisme Warga Jakarta Hadapi Pilkada

Pesimisme dan Optimisme Warga Jakarta Hadapi Pilkada

- detikNews
Sabtu, 14 Jul 2007 20:18 WIB
Jakarta - Dua kandidat Gubernur DKI Jakarta dinilai tidak ada yang memiliki kepemimpinan yang bagus. Ini membuat sebagian kalangan pesimis terhadap pelaksanaan Pilkada mendatang. Namun, warga diminta tetap memilih satu dari yang buruk ini.Demikian kesimpulan dalam diskusi publik tentang Pilkada DKI Jakarta yang dihadiri oleh pengamat politik CSIS J Kristiadi, pengamat politik UI Andrinof A Chaniago dan peneliti LSI Syaeful Muzani di Pizza Cafe, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/7/2007)."Kalau masyarakat dibiarkan golput, tentunya masyarakat akan menjadi pesimis dalam pilkada di Jakarta," kata Kristiadi dalam diskusi tesebut.Menurut Kristiadi, golput yang dilakukan sebagian masyarakat pada zaman orde baru sangat beralasan dan bisa masuk akal. Sebab, masa itu kehidupan politik sangat didominasi negara, sehingga masyarakat tidakpunya pilihan atau alternatif lain."Tapi sekarang demokrasi sudah terbuka, bisa saja golput tidak lagi zamannya, karena negara tidak bisa berbuat atau mendiminasi politik yang ada saat ini" jelasnya.Sementara, menurut pengamat politik Andrinof Chaniago, optimis atau pesimisme warga Jakarta dalam Pilkada mendatang tergantung dari langkah-langkah kongkret untuk memperbaiki kondisi dan kepemimpinan di ibukota. Artinya keburukan-keburukan yang ada pada para kandidat akan tereliminasi bila mereka punya niat untuk mengambil langkah kongkret dalam kampanye mendatang."Ini agar masyarakat sadar dan mau bertanya, kok begini sistemnya. Untuk itu perlu kontrak sosial dalam kampanye mendatang, baik melalui saluran politik formal di DPR atau informal dengan kelompokmasyarakat, LSM, mahasiswa, pers dan lain-lain," jelas Andrinof.Ditambahkan pengamat LSI Syaeful Muzani, masyarakat jangan memberikan kesempatan kepada pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar dan Fauzi Bowo-Prijanto untuk membuat janji-janji pada kampanye mendatang. "Buatlah sebanyak-banyaknya kontrak politik dan sosial dengan kedua calon itu dalam kampnye nanti bagaimana memajukan Jakarta pada 5 tahun ke depan. Jangan janji, yang nantinya akan dimanfaatkan pada pilkada berikutnya," imbuh Muzani.Muzani juga sepakat bila masyarakat jangan pesimis dan tidak golput pada pemilihan mendatang. Walaupun pilihan untuk tidak memilih juga merupakan hak dalam alam demokrasi. Sebab, pilihan itu juga tidak akanmengubah keadaan dan tidak memunculkan alternatif yang lebih baik untuk keluar dari pesimisme itu. (zal/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads