Polemik Partai GAM Bukti Ketegangan Pusat dan Daerah
Sabtu, 14 Jul 2007 15:51 WIB
Jakarta - Pembentukan partai GAM di Aceh dinilai memicu kembali ketegangan antara pemerintah dan daerah. Ketegangan ini diharap tidak berakhir di ujung senjata."Jadi polemik ini hanya satu bayang-bayang orang Jakarta sendiri tentang Aceh, hanya bayangan negatif yang merasa terganggu dengan partai lokal," kata pemerhati masalah Aceh, Otto Syamsuddin Ishak.Hal ini disampaikan Otto usai diskusi Polemik Partai GAM di AnexBuilding Wisma Nusantara, Jalan Thmanrin, Jakarta, Sabtu (14/7/2007).Dikatakan Otto, pemerintah tidak meragukan komitmen mantan anggota GAM terhadap NKRI. Bahkan komitmen ini telah disampaikan oleh juru bicara GAMyang kini menjabat Gubernur Aceh Irwandi Yusuf."Ketegangan pusat dan daerah itu masih tetap terjadi. Tapi proses pembangunan di Aceh kan harus tetap jalan dan janganlah ketegangan itu sampai mengundang senjata kembali di Aceh," cetus Otto.Dalam kesempatan yang sama, anggota DPR Ferry Mursidan Baldan meminta agar parpol GAM tidak menggunakan simbol-simbol GAM."Itu yang harus dihilangkan dan ditinggalkan dahulu karena masih mengingatkan suasana konflik. Padahal saat ini kita sudah melalui proses damai. Kalau itu digunakan lagi, sangat kontraproduktif dengan semangat yang dicapai perjanjian Helsinki. Kita juga jangan gunakan semangat untuk melarang. Pemerintah juga jangan melarang adanya parpol lokal," terang Ferry.
(aan/umi)











































