Menyusuri Busway Koridor II & III yang Terancam Bangkrut
Jumat, 13 Jul 2007 09:05 WIB
Jakarta - Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB tapi halte busway di Kalideres, Pesakih, Rawa Buaya, Taman Kota dan Jelambar, telah dipadati manusia. Mereka menunggu bus kesayangan mereka: Transjakarta.Setiap menit berganti, kepadatan di halte busway koridor III Harmoni-Kalideres itu kian menggila. Mereka berebutan berangkat kerja menuju pusat kota. Pada sore hari antara pukul 16.30-19.00 WIB, calon penumpang busway koridor ini ganti bertumpuk dari arah sebaliknya, dari pusat kota ke pinggiran. Pusat antrean terdapat di Harmoni Central Busway (HCB). Jumlahnya mencapai ratusan. Mereka berdesak-desakan mengantre kedatangan bus favorit mereka yang adem. Setiap bus datang, langsung diserbu pengantre yang tidak sabar. Saling injak dan saling sikut menjadi tradisi. Meski bus telah penuh, penumpang selalu berusaha merangsek agar bisa diangkut. Satgas yang bertugas seolah tidak kuasa melarang "amukan" penumpang yang ingin lekas tiba di tujuan.Situasi ini juga setali tiga uang dengan busway koridor II yang melayani Harmoni-Pulogadung. Maklum,koridor II dan III adalah jalur gemuk. Sebelum ada Transjakarta, bus-bus umum yang melewati rute ini juga selalu dipadati penumpang. Tak pernah sepi meski hari telah larut.Kesan di luar, rute ini laku keras. Penumpang selalu setia menanti dan tak mempermasalahkan Rp 3.500 keluar dari koceknya sebagai ongkos.Tapi apa lacur, koridor gemuk ini terancam bangkrut. Penyebabnya, operator kedua koridor ini yaitu PT Transbatavia, selalu nombok. "Bukan tidak mungkin koridor II dan III tidak beroperasi lagi karena terus menombok," ujar Direktur Operasi Transbatavia Jabes Sihombing 10 Juli lalu.Mengapa menombok, karena keuntungan yang didapat operator dihitung berdasarkan rupiah/kilometer dan bukan per penumpang. Semakin panjang km yang dijalani sebuah bus, semakin banyak duit yang diterima operator. Tapi semakin sedikit km yang dicapai bus, ya operator gigit jari.Nah, Transbatavia menemukan bahwa banyak bus nongkrong di pool sehingga bus itu tidak memiliki banyak catatan km. "Oparator harus nombok setiap hari karena seharusnya bus itu bergerak 290 km/hari, tetapi kini hanya 165 km/hari. Padahal dalam perjanjian, setiap operator mendapat Rp 12.550/km untuk tiap bus," ujar Jabes kesal.Badan Layanan Uumum (BLU) Transjakarta selaku pengelola busway mengakui, tidak semua bus diterjunkan. Sedikitnya ada 10 persen bus yang beristirahat bergiliran. Setelah jam berangkat kerja, bus yang ditarik ke pool bertambah mengingat penumpang mulai sepi.Busway koridor II hanya dilayani oleh 43 unit bus dari jumlah yang seharusnya 55 bus. Rute koridor ini sepanjang 14,3 km dengan jumlah shelter sebanyak 23 buah memanjang antara Terminal Pulogadung hingga Harmoni Central Busway (HCB). Sedang rute busway koridor III sepanjang 14 km dengan jumlah shelter sebanyak 14 buah memanjang antara Terminal Kalideres hingga HCB. Rute ini dilayani 43 bus dari kebutuhan 71 bus. Dengan perbedaan jumlah bus yang mencolok ini bisa terbayang betapa padatnya setiap bus yang lewat di dua koridor ini.Selain padat, bus di koridor ini juga gagal memenuhi target interval waktu yang hanya per 3-5 menit. Menurut pengamatan detikcom pada Kamis 12 Juli 2007 kemarin, interval waktu kedatangan bus di halte tidak sama. Kadang penumpang harus menunggu selama 15 menit atau lebih, baru bisa terangkut.Transbatavia kecewa karena bus tidak diberangkatkan tiap 3 menit seperti rencana semula. Bus baru berangkat setelah bus penuh penumpang. Yah, mirip bus umum di terminal.Sedikitnya jumlah armada bus dan lamanya interval tiap bus ini selain membuat penumpang menumpuk di halte-halte, juga membuat busway rawan penyerobotan kendaraan non-Transjakarta. Tentu pengendara kendaraan lain ngiler melihat jalur mulus di sampingnya yang kosong melompong, bak gadis tengah mengerling. Jadinya, terabas saja!
(rdf/nrl)











































