TV Mobil, Penghibur atau Pengundang Bencana?
Jumat, 13 Jul 2007 06:40 WIB
Jakarta - DKI Jakarta identik dengan kemacetan. Saking parahnya ada candaan yang berbunyi "kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya".Baik, saat ini lupakan dulu soal kemacetan yang menjadi langganan di pusat pemerintahan Indonesia itu. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana mengatasi kebosanan jika kita terjebak kemacetan.Kalau sepeda motor bisa selip kiri, selip kanan, bahkan hingga naik trotoar agar bisa sampai di tempat tujuan. Nah kalau mobil, mana bisa? Perangkat hiburan pun menjadi pilihan untuk menghilangkan kebosanan.Dulu pengemudi dan penumpang biasa mendengarkan musik di mobil. Perangkat audio terus membumi sehingga saat ini sudah menjadi perlengkapan standar di hampir semua kendaraan roda empat yang berseliweran di Jakarta.Bosan? Kini muncul trend baru seiring dengan perkembangan teknologi yang kian canggih dan murah, yakni TV mobil. Tata letaknya dan jumlah TV yang rata-rata berdiameter 7-9 inchi itu pun bervariasi. Ada yang diletakkan di dashboard, di langit-langit, di pintu, di bagasi, bahkan ada yang di sandaran leher. Sedangkan jumlahnya mulai dari 1 unit hingga belasan unit.Seru memang !! Kemacetan bakal tidak terasa, bisa melihat aksi timnas PSSI di Senayan, dan pastinya Anda tidak akan ketinggalan informasi. Tapi, apa ini tidak akan mengganggu konsentrasi pengemudi saat sedang mengendarai mobil?Jika hanya musik, okelah tidak mengganggu konsentrasi karena fokus pandangan bisa tetap pada jalan. Namun, mengemudi sambil sebentar-sebentar melirik acara di TV itu soal lain. Bukan perasaan senang yang muncul, bisa-bisa nyawa melayang.Nah, pemerintah Thailand sudah siap mengambil kebijakan untuk mengatur keberadaan TV set di mobil. Dan kepolisian di negara gajah putih itu pun juga mendukung rencana itu dengan dalih menonton TV di mobil lebih berbahaya daripada berbicara lewat ponsel.Di Indonesia rencana serupa belum terdengar gaungnya. Tapi yang jelas, wacana ini akan dapat menimbulkan pro-kontra di kalangan pemilik mobil, terutama bagi yang mobilnya sudah dilengkapi televisi. Peran pemerintah selaku regulator akan sangat menentukan bagi nasib TV-TV itu. Pemerintah, khususnya Pemprov Jakarta, harus dapat mempertimbangkan manfaat TV sebagai sarana hiburan di kala macet. Kalau main larang tanpa ada alternatif solusi, bisa dipastikan suara penolakan akan menjadi dominan.Korban memang belum jatuh, tapi apakah harus menunggu korban bergelimpangan? Pemerintah sudah harus mulai memikirkan regulasi tentang aktivitas menonton TV di mobil. Setidaknya mulai sekarang sudah mulai diwacanakan karena saat ini produsen TV mobil juga kian gencar menjual produknya. Jangan sampai pemilik mobil kesal, sudah membeli TV untuk mobil kesayangannya, eh tidak tahunya dilarang.
(gah/nwk)











































