Gus Dur-JK Islah Tepis Persepsi Elit Kok Berantem Terus

Gus Dur-JK Islah Tepis Persepsi Elit Kok Berantem Terus

- detikNews
Kamis, 12 Jul 2007 09:23 WIB
Jakarta - Perdamaian antara mantan presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mendapat sambutan baik. Langkah itu dinilai sebagai bentuk kedewasaan berpolitik dari para elit politik yang tidak mengedepankan konflik."Itu untuk menghindari persepsi masyarakat yang pesimistis, elit kok berantem terus, kapan kerjanya. Ini tak lain sebagai bentuk kedewasaan berpolitik," kata pengamat politik dari Universitas Airlangga Mohammad Asfar kepada detikcom, Kamis (12/7/2007).Namun, ia tidak menyangkal pandangan yang menilai bahwa kesepakatan itu tidak jauh-jauh dari muatan politik. Ada perimbangan untung rugi yang ditekankan."Pandangan itu tak bisa ditampik. Ada pertimbangan politik, untung rugi. Namun saya tidak mau berspekulasi. Tapi, kearifan berpolitik akan menyingkirkan sikap oportunis untung rugi," tambahnya.Asfar menegaskan, di luar proses islah itu, tak ada persoalan urgensi yang layak dipertahankan kedua belah pihak. Baik Gus Dur dan Kalla sama-sama tidak diuntungkan dengan saling adu otot meneruskan persoalan ini ke pengadilan."Bagi JK sulit untuk menunjukkan kesalahan yang dilakukan Gus Dur. Sebaliknya, Gus Dur tidak diuntungkan dengan posisi itu. Ya itu jalan terbaik saya kira," tandas akademisi yang sedang mengambil gelar S3 ini.Gus Dur menggugat JK di PN Jakarta Pusat senilai Rp 1 triliun bulan lalu. Gus Dur menuduh Kalla telah mencemarkan nama baiknya dalam pernyataan di sebuah forum Partai Golkar 9 April 2007. Saat itu JK menceritakan, dia dicopot oleh Gus Dur sebagai kabulog karena menolak permintaan uang dari Gus Dur. (Ari/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads