Perang & Kekerasan Terus Ancam Dunia
Kamis, 12 Jul 2007 02:26 WIB
Jakarta - Kian hari, dunia semakin dirundung duka. Perang dan kekerasan mengancam hampir di seluruh penjuru bumi. Untuk meredam ancaman itu, yang dibutuhkan adalah kembali menjalin dialog tanpa batas antar sesama negara, budaya tanpa memandang sekat bahasa dan warna kulit.Pendapat itu dikemukakan oleh Presiden Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin dalam dialog terbuka "The Alliance of Civilisations and Its Prospect" di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2007). "Kongkretnya adalah membangun pendidikan yang terbuka. Selain itu membuat suasana media massa yang kondusif bagi perbedaan dan menghindari perbedaan persepsi yang mencolok," usul Din yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhamaddiah itu.Din menyayangkan mitos benturan antar peradaban yang masih menggema. Menurutnya, pandangan itu keliru karena bisa menjadi bias antara kenyataan dan khayalan. Menurut Din, benturan peradaban tidak pernah terjadi. Namun, ia menilai teori benturan antar peradaban sebagai warning untuk dunia yang masih jauh dari damai."Banyak kasus, seperti di Timur Tengah dikaitkan dengan benturan peradaban antara Islam dan Barat. Itu membuat rancu. Tapi kita harus menyusun secara cerdas bagaimana keluar dari persoalan itu," tandasnya. Dalam kesempatan serupa, mantan Menlu Ali Alatas menyatakan bahwa persoalan yang melatarbelakangi kekerasan itu semua adalah jaminan kesejahteraan yang minim. "Kondisi ini menyebabkan kekerasan kerap terjadi baik di suatu negara ataupun lintas negara," ujar Ali Alatas.Sebagai solusi, dia menawarkan bentuk kekerasan pada tingkat paling implementatif yakni perbaikan ekonomi. Bila dituruti, kekerasan dapat diminimalisir."Kesejahteraan untuk menghilangkan kekerasan. Ini butuh kemauan politik dan kerja praktis dari pemerintah," tandasnya.
(Ari/mly)











































