Tak Ada Biaya, Iis Hanya Bisa Pasrah Hadapi Tumor Ganas
Rabu, 11 Jul 2007 14:12 WIB
Kudus - Tumor ganas sebesar bola tendang bersarang di kepala Iis. Kedua orang tuanya tak lagi mempunyai biaya. Akibatnya Iis, hanya bisa pasrah menunggu keajaiban.Bocah perempuan asal Desa Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, itu kini tergolek lemah di atas tempat tidur. Kedua orang tuanya sudah angkat tangan karena biaya untuk berobat telah habis. Pasangan Sutiyono (50) dan Safaatun (35), tidak tahu harus berbuat apa lagi. Anak ketiga mereka, Iis (7) sudah setahun ini tak bisa beraktivitas akibat penyakit berbahaya itu. Jangankan sekolah atau bermain, untuk bergerak saja bocah perempuan itu sudah tak sanggup. Tumor ganas itu diderita Iis sejak dua tahun lalu. Awalnya, penyakit itu hanya sebuah benjolan sebesar kelereng di kaki kiri. Kian lama, benjolan itu kian membesar. Seiring tumbuhnya tumor di kaki, muncul lagi sebuah benjolan di dahi dan pangkal pahanya. Berbagai pengobatan telah dicoba orang tua Iis. Awal Agustus 2006, Iis menjalani operasi di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus dan dilanjutkan operasi tahap kedua empat bulan berikutnya. Karena benjolan di kakinya tak menyusut, bocah itu kembali menjalani operasi yang ketiga.Namun upaya medis itu ternyata tak membuahkan hasil. Sebaliknya, pembengkakan di kaki Iis malah kian membesar. Atas bantuan seorang dokter, awal Januari lalu, Iis dirujuk ke Rumah Sakit Sultan Agung Semarang untuk menjalani kemoterapi. Akan tetapi, tumor di tubuhnya masih saja tumbuh. Kini, benjolan daging itu telah mencapai seukuran bola. Ditemui di rumahnya, Rabu (11/7/2007), Iis yang didampingi ibunya mengutarakan niatnya masih ingin kembali bersekolah. Dia juga ingin belajar bersepeda yang terhenti sejak tumor menyerang tubuhnya. Safaatun mengaku sudah pasrah dengan keadaan anaknya. "Sawah dan pekarangan sudah kami jual untuk mengobati dia (Iis). Kini harta kami tinggal rumah yang kami tempati," tuturnya. Diungkapkan, untuk sekali berobat, dia harus mengeluarkan biaya sedikitnya Rp 300 ribu. Sang suami sudah kini sudah tak mampu bekerja lagi. Kini, satu-satunya andalan penghidupan hanya dari upahnya sebagai buruh tani. "Darimana kami mendapat uang untuk menyembuhkannya? Makan saja kami masih kekurangan," uja Safaatun lirih. Dia berharap ada dermawan yang mengulurkan bantuan untuk pengobatan buah hatinya hingga sembuh.
(djo/djo)











































