Kisah Pegawai Honorer
Diceraikan Istri, Sekolahkan Anak Hingga Universitas
Selasa, 10 Jul 2007 20:01 WIB
Jakarta -
Bagi kebanyakan orang, menjadi pegawai honorer tentu bukan pilihan utama. Seperti yang dialami oleh para pekerja non pegawai negeri sipil di lingkungan Departmen Pekerjaan Umum (DPU). Meski sudah puluhan tahun bekerja tanpa kejelasan status, mereka tetap bertahan, meski harus gali lubang tutup lubang setiap bulannya untuk bertahan hidup.Seperti yang dituturkan Sutarman (53). Warga Nggodong, RT 9 RW 2 Semarang itu, Selasa, (10/7/2007) datang ke Istana Presiden di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta.bersama ratusan rekan-rekannya sesama pegawai honorer di DPU, Sutarman ingin meminta kejelasan nasibnya. Terutama statusnya sebagai pegawai honorer. Pria berkaca mata minus ini, menceritakan dengan getir bagaimana selama 32 tahun dia menjadi pegawai honorer dilingkungan DPU."Harus pandai-pandai menghemat. Apalagi sebelum krisis, honor sangat sedikit," ungkap Sutarman yang hanya dibayar dengan honor Rp 761 ribu per bulannya.Namun, pilihan gaya hidup prihatin yang dilakoninya tidak sia-sia. Anak pertamanya, Anam, kini sedang menyelesaikan skripsi di FISIP UNS Semarang, Jurusan Sosiologi. "Meski anak saya pendiam, tapi pintar," kisahnya bangga.Meski pahit, suami dari Purwatiningsih (36) itu bahagia dengan penghasilan pas-pasan. Karena penghasilan pas-pasan tersebut, dia diceraikan istri pertamanya, Nur Farida 10 tahun silam. Diceritakan Sutarman, mantan istrinya itu tidak tahan hidup serba pas-pasan. "Dia punya prinsip uang adalah Tuhan dan pakaian adalah Nabinya," kenang Sutarman.Bak kisah sinetron di layar kaca, Nur Farida meninggalkannya dan menikah dengan orang Pakistan ketika menjadi TKI di Arab Saudi."Alhamdulillah, istri saya yang sekarang pengertian. Dia mau buka warung untuk menambah penghasilan keluarga," tutup Sutarman.
(asp/bal)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































