Mengasong Buku Tulis Saat Pendidikan Mahal

Mengasong Buku Tulis Saat Pendidikan Mahal

- detikNews
Selasa, 10 Jul 2007 02:33 WIB
Jakarta - "Buku, buku...." teriak Yudi (25) menyusuri Jl Warakas VI Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sembari teriak, pemuda tegap itu mendorong gerobak berisi buku tulis baru yang terbungkus rapi dalam kertas transparan. Peluh menetes perlahan membelah dahi dan lehernya."Capek juga. Muter-muter keliling kampung jualan buku tulis. Belum tentu ada yang beli," ujar Yudi, pemuda urban dari Pekalongan, Jawa Tengah, sejak 4 tahun lalu itu kepada detikcom, Senin (9/7/2007).Yudi merupakan penJual musiman buku tulis. Ia melakukan pekerjaan itu bertepatan dengan masa ajaran baru sekolah. Ratusan buku dari berbagai merek dan ukuran ia jajakan saban hari sejak pukul 07.00 WIB.Ia baru usai mengasong buku jika jarum jam sudah menunjuk pukul 16.00 WIB. Saat penat membekap, dia menyempatkan untuk istirahat satu sampai dua jam di masjid atau mushola yang ia temui sekedar melepas lelah."Nggak begitu ramai. Tambah tahun, tambah menurun saja. Sehari paling banter dapat menjual 5 pak (satu pak berisi enam buku tulis-red)," ujar pria yang mengontrak rumah di Jl Lorong 20, Koja, Jakarta Utara.Dengan nilai jual bervariasi dari Rp 30.000 hingga Rp 42.000 per pack, tergantung dari ukuran dan kualitas buku, ia hanya menyisihkan keuntungan Rp 5.000 per paknya. Jumlah ini menurutnya menurun hampir separuh dari tahun lalu."Tahun lalu masih agak ramai. Sekarang sepi. Mungkin pada sayang untuk beli buku. Sekarang kan apa-apa tambah mahal," celetuk Yudi.Agak berbeda dengan Yudi, Anto (33) warga RT 8 RW 10 Rawa Badak Utara, Jakut, pengasong buku tulis lain mengaku punya pelanggan tetap untuk meneguk rezeki saat musim pelajaran baru menyapa. Karenanya Anto hanya perlu keliling kampung untuk mendapatkan pelanggan baru."Sudah tahu tempat-tempat yang biasa beli ke saya. Tapi tetep saja belinya pada sedikit-sedikit. Katanya harus di bagi dengan kebutuhan lain," cerita Anto yang mengedarkan dagangannya di Jalan Rawa Badak Utara.Mengasong buku tulis memang kontras dengan pendidikan yang semakin mahal. Pendidikan telah mensegmentasikan diri milik orang yang mampu beli pendidikan terasa semakin mahal saja. Lantas, menjajakan buku dari kampung ke kampung pun layaknya menjual BMW atau Volvo ke kaum miskin papa."Beli buku mungkin urutan kesekian, setelah beras, susu, minyak, dan lain-lain " tukas Anto. (Ari/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads