Korban Lumpur Terpecah Belah

Korban Lumpur Terpecah Belah

- detikNews
Senin, 09 Jul 2007 20:22 WIB
Jakarta - Kerentanan jiwa yang dialami korban lumpur Lapindo Brantas Inc cukup parah. Ribuan orang stres, gampang curiga, terpecah belah, bahkan puluhan orang meninggal dunia."Bahkan ada yang depresi hingga di rawat di rumah sakit ada 7 orang," kata saksi ahli dari penggugat, Prof Dr Nur Syam, dalam persidangan legal standing terhadap pemerintah dan Lapindo Brantas Inc di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Senin (9/7/2007).Hasil tersebut didapatkan Nur Syam beserta tim penelitian di almamaternya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Penelitian yang diadakan selama 3 bulan dari Februari-April 2007 ini menemukan ribuan korban lumpur Lapindo stres, dan 42 orang meninggal dunia."Pranata sosial di desa-desa yang terendam lumpur jadi berubah," ujar guru besar sosiologi ini.Di desa-desa yang terendam lumpur seperti Siring, Renokenongo, Kedungbendo, dan Jatirejo, masyarakat yang dulu mempunyai sifat peduli, ramah, dan tentram sekarang sudah mulai berubah."Masyarakat di desa-desa itu sekarang jadi gampang marah, sensitif, merasa tak ada masa depan dan gampang curiga dengan sesama warga maupun orang baru," lanjut Syam.Saking curiganya, masyarakat di desa-desa tersebut sudah terpecah belah. Sebab, ada yang setuju maupun tidak setuju terhadap mekanisme pembayaran ganti untung."Ada yang setuju pembayaran 20 persen, ada yang tidak setuju, maunya cash and carry 100 persen. Nah, warga kadang ada yang curiga warga lainnya menerima pembayaran lebih dulu, nanti ada yang memprovokasi. Jadi masalahnya sudah sangat kompleks bukan lagi persolan siapa membayar siapa dan berapa jumlahnya," ujarnya.Gejala lain, lanjut Syam, banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selain itu banyak juga kasus kekerasan pada anak-anak. Anak-anak itu, lanjut Syam, terbiasa melihat orang tuanya berhubungan suami istri karena tempat yang sempit dan terbatas.Hasil penelitian kualitatif ini melibatkan 10 hingga 15 orang yang mewakili di setiap desa dengan metode snow ball sampling dalam mencari responden. Metode yang digunakan untuk menggali informasi adalah wawancara mendalam.Sedangkan solusi yang diberikan dalam penelitian ini adalah relokasi 12 ribu warga desa yang terkena lumpur. "Namun itu butuh waktu karena menyiapkan lahan, pembangunan. Sementara semburan lumpur bersifat jangka panjang," tukas Syam. (nwk/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads