Duka Selimuti Pembagian Rapor di SMPN 67
Senin, 09 Jul 2007 10:49 WIB
Jakarta - Bendera Merah Putih setengah tiang berkibar. Belasan karangan bunga duka cita berjejer di halaman SMPN 67 menyusul tewasnya 5 siswa SMP tersebut dan seorang pembina Pramuka di Kawah Ratu, Bogor.Karangan bunga itu dikirim dari berbagai kalangan SMPN antara lain dari SMPN 33, SMPN 250, SMPN 58, SMPN 57, dan SMPN 26. Juga ada buket bunga dari Dinas Pendidikan Nasional Jakarta serta Walikota Jakarta Selatan.Papan pengumuman yang berisi pemberitahuan korban tewas dan dirawat masih dipasang.Beberapa siswa dan orangtua siswa yang tengah mengambil rapor kenaikan kelas dan ijazah tampak membaca berita duka itu. Pembagian rapor diselimuti duka. Insiden di Kawah Ratu menjadi tema utama obrolan mereka.5 Siswa dan 1 Pelatih SMPN 67 tewas saat tengah mengikuti kegiatan outbond kepramukaan dan kemah di kawasan Kawah Ratu, Gunung Salak Endah, Cidahu, Sukabumi pada Sabtu 7 Juli. Mereka tewas lantaran menghirup gas beracun.Keenam korban tewas itu adalah Syarifah, Andre Junius, Dian Saputra, Rizka Fitriana, M Junaedi, dan Rizki Arifian Dani (pelatih).SantunanSementatara itu, orangtua korban tewas, Syarifah dan Rizky Arifian, Karta dan Rahmat menyambangi SMPN 67 untuk meminta kejelasan santunan."Kami minta kejelasan bantuan biaya doa," kata Karta.Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SMP 67 Purwanti Rimun mengaku siap memberikan bantuan pemakaman dan pascapemakaman serta biaya pengobatan."Ini merupakan murni musibah, anak-anak turun ke kawah karena didorong keinginan sangat besar fungsi belerang untuk menghaluskan kulit. Jadi dari pelatih tidak bisa melarang," kata Purwanti.Purwanti mengatakan, pihak sekolah tidak dapat memberitahunan kabar duka secara cepat lantaran terbentur komunikasi dan jarak lokasi yang sulit ditempuh."Kami memang beri izin setelah ada pelatih yang pernah berkemah di sana. Ini acara tahunan dan baru pertama kali digelar di Kawah Ratu," ujarnya.Dalam kesempatan itu, ayah Rizki, Rahmat mengaku menangkap firasat sebelum putranya meninggal dunia."Dia pamitan mau berkemah dengan teman-teman di Pramuka. Saya beri uang Rp 40 ribu, tetapi dikembalikan lagi. Ini tidak seperti biasanya," kata Rahmat dengan wajah duka.
(aan/nrl)











































