Pengamat Intelijen: RI Harus Protes Travel Warning Australia
Senin, 09 Jul 2007 08:06 WIB
Jakarta - Australia mengeluarkan travel warning kepada warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Indonesia karena akan ada serangan teroris dalam waktu dekat. Kebijakan ini dinilai sebagai tindakan yang tidak etis dan merupakan bentuk intervensi terhadap pemerintah RI. Deplu diminta melayangkan protes keras kepada pemerintah Australia."Kita harus protes keras. Deplu harus memperingatkan Australia atas ucapan-ucapan yang tidak etis ini,"ujar pengamat intelijen Soeripto kepada detikcom, Senin (9/7/2007).Travel warning ini, menurut Soeripto, hanya untuk menakut-nakuti Indonesia saja. Tujuan jangka panjangnya untuk menimbulkan distabilisasi keamanan di Indonesia.Menurut politisi PKS ini, jika Australia ingin membangun persahabatan yang kekal dengan RI, harusnya mereka tidak 'ember' dengan terus mencerca Indonesia sebagai sarang teroris."Kalau pun ada, harusnya dibicarakan melalui jalur-jalur yang disepakati bersama. Misalkan melalui jalur Deplu ataupun intelijen," kata pria yang juga anggota Komisi III DPR ini.Kebijakan tersebut, selain membuat warga Australia enggan ke Indonesia, juga membuat WNI resah. "Kita terus dibayangi oleh ketakutan akan adanya terorisme di dalam negeri," imbuhnya.Soeripto menambahkan, bukan hanya masalah terorisme saja yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Masih banyak permasalahan lain yang juga perlu diselesaikan."Ancaman separatisme juga harus diperhatikan pasca kejadian di Maluku dan Papua. Kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, harga susu naik dan masih banyak lagi masalah lainnya," papar Soeripto.Travel warning ini juga merupakan bentuk pendiktean pemerintah Australia kepada RI. "Seakan-akan mereka mau mendikte kita. Harga diri kita tidak boleh didekte oleh intelijen asing," pungkas Soeripto.
(anw/nrl)











































