Berburu Minyak Tanah Hingga Tetes Terakhir di Priok

Berburu Minyak Tanah Hingga Tetes Terakhir di Priok

- detikNews
Kamis, 05 Jul 2007 15:17 WIB
Jakarta - Satu pekan ini minyak tanah menjadi barang langka. Warga harus mencari di lintas kelurahan dan pangkalan minyak tanah guna membawa pulang minyak sebatas 5 hingga 10 liter."Saya sudah mencari di 4 agen minyak di Pademangan dan Tanjung Priok. Nggak ada semua. Ini kebetulan saja nemu," kata Udin (51), warga, RT 10/15 Pademangan Jakarta Utara, saat mengantre di pangkalan minyak tanah H. Mustofa, Jl Warakas VI, Tanjung Priok Jakarta Utara, Kamis (5/7/2007).Udin mendapat keberuntungan saat ia melintas di Jl. Warakas dari atas kendaraan roda duanya. Dia sebenarnya sudah putus asa. Tiba-tiba, saat ia hendak memutar balik untuk pulang ke rumah, ia berpapasan dengan truk tangki minyak tanah. Kontan ia mengikutinya dan berharap dapat memperoleh minyak yang ia idamkan. "Kalau masuk ke kampung berarti tangkinya penuh. Kalau keluar kampung, biasanya sudah habis," paparnya.Benar saja. Setelah menguntit truk tangki sejarak 300 meter, ia sampai di pangkalan H. Mustofa. Ia bergegas ikut mengantre minyak bersama ibu-ibu sejak setengah jam sebelumnya."Tapi ya itu. Cuma boleh 10 liter perorang. Saya maunya 30 iter untuk dagangan warung saya," kata Udin sambil menenteng hasil antreannya.Sementara itu, puluhan warga Tanjung Priok sudah mengantre sejak subuh di pangkalan minyak PJKA. Namun pukul 06.00 WIB, minyak habis. Banyak warga yang tidak kebagian. "Saya pagi tadi di PJKA nggak dapat. Saya dengar di sini ada stok. Saya langsung ke sini," kata Ani (32), pengantre asal Warakas RT 11/4, Tanjung Priok.Ani dan Udin merupakan sebagian kecil dari puluhan korban kebijakan konversi minyak tanah ke kompor gas. Menurut para warga, kompor gas lebih boros dan rawan meledak. Sementara untuk penjual minyak tanah yang mulai bergeser menjual gas, keuntungan sangat menurun hingga 50 persen. "Kami takut. Pengennya sih tetap kompor minyak. Pake gas takut meledak. Tapi gimana lagi, minyak langka," ucap Ani memelas.Alhasil, Ani dan puluan warga lain harus rela berletih mengantri minyak hingga tetes terakhir. Meski terkadang pulang dengan tangan hampa. (Ari/asy)


Berita Terkait