Status Normal Aktif, Gunung Guntur Perlu Diwaspadai
Kamis, 05 Jul 2007 08:40 WIB
Bandung - Gunung Guntur di Kabupaten Garut, Jawa Barat sudah melewati periode siklus meletus. Apakah Gunung Guntur akan segera meletus? Tidak bisa diprediksi. Yang jelas, saat ini tidak ada peningkatan aktivitas di gunung yang pernah meletus sangat dahsyat pada tahun 1841 itu. Meski begitu, warga perlu mewaspadainya.Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Surono membenarkan bahwa Gunung Guntur telah melewati periode meletus. "Memang sudah 160 tahun tidak meletus. Gunung ini meletus terakhir pada tahun 1841," kata Surono saat dihubungi detikcom, Rabu (4/7/2007). Letusan Gunung Guntur pada 1841 itu merupakan letusan paling besar. "Saat itu 400 ribu batang kopi hancur. Bayangkan, kondisinya sekarang, bila gunung itu meletus lagi," ujar Surono. Surono tidak bisa memprediksi apakah dengan sudah lewatnya periode siklus meletus itu berarti Gunung Guntur akan segera meletus. "Sulit diprediksi. Tapi Gunung Guntur ini termasuk gunung magmatik. Mungkin saja gunung itu menyusun kekuatan saat ini, sehingga saat meletus akan terjadi akumulasi letusan yang sangat besar," jelas dia. Ketika meletus tahun 1841, Gunung Guntur ini berdentum sangat dahsyat. "Maka gunung ini disebut Gunung Guntur, karena dentumannya yang sangat keras," tutur dia. Memang, pada tahun 1997 dan 1999, gunung ini sempat mengalami peningkatan aktivitas. Namun, saat itu, gunung itu tidak sampai meletus, hanya mengalami krisis. Jadi, artinya apakah Gunung Guntur punya potensi meletus dalam waktu dekat? "Semua gunung punya potensi meletus. Tapi, kita tidak bisa memprediksi bahwa gunung itu akan meletus 2 atau 10 tahun lagi," tegas dia. Berdasarkan sejarah letusannya, pada 1800-1847, Gunung Guntur ini mengalami 21 kali letusan. Artinya, hampir dua tahun sekali gunung ini meletus. Namun, letusan paling besar terjadi pada 1841. Dengan demikian, sudah 150 tahun lebih gunung ini tidak meletus. Menurut Surono, status Gunung Guntur saat ini aktif normal. Pihaknya tidak bisa menaikkan statusnya, karena sampai sekarang tidak mengalami peningkatan aktivitas. Pihaknya juga tidak mengawasi Gunung Guntur lebih ketat dibanding gunung-gunung lainnya. "Nggak, pengawasan sama dengan gunung api lainnya di seluruh Indonesia. Kita semua memberikan pengawasan lebih ketat," ujar dia. Namun, memang semua pihak diminta waspada. "Di kaki Gunung Guntur ini, sudah banyak tempat wisata, banyak hunian, juga hotel-hotel. Bila nanti suatu saat terjadi letusan, bila tidak diantisipasi dengan cepat, tentu bisa banyak menimbulkan korban. Ingat, gunung ini memiliki letusan dengan dentuman yang sangat besar," kata dia.
(asy/nrl)











































