Barack Obama Raup Dana Kampanye Paling Besar

Barack Obama Raup Dana Kampanye Paling Besar

- detikNews
Selasa, 03 Jul 2007 06:05 WIB
Washington - Siapa bilang Hillary Clinton bakal lenggang kangkung memenangkan nominasi capres Partai Demokrat. Di berbagai jajak pendapat ia memang mengungguli lawan terkuatnya, Barack Obama, tapi senator asal Ilinois ini baru saja membuat kubu Hilarry cukup was-was. Sebagaimana dilaporkan koresponden detikcom di Washington DC, Endang Isnaini Saptorini, baru saja terungkap senator yang sempat menghabiskan masa kecil di Indonesia mendulang dana kampanye lebih banyak dari Hillary Clinton. Seperti diumumkan dalam situs resmi kampanye Barack Obama, dalam kuartal kedua 2007 ia meraup dana US$ 32,5 juta. Dana itu diperoleh dari sumbangan perorangan yang jumlahnya mencapai 258 ribu. Sementara kubu kampanye Hillary mengungkapkan, senator asal Negara bagian New York ini mengumpulkan US$ 27 juta. Sedangkan unggulan ketiga dari Partai Demokrat hanya meraup US$ 9 juta. Dalam sejarah, calon yang meraup dana paling besar dan unggul di jajak pendapat bisanya akan menang dalam pemilihan pendahuluan adan akhirnya jadi capres tunggal partai. Persoalannya, dari berbagai jajak pendapat nasional, posisi Barack Obama berada di bawah Hillary Clinton. Dalam jajak pendapat terakhir yang dilakukan CNN, Hillary nangkring di tempat pertama dengan 43 persen, Obama 27 persen, dan John Edwards 17 persen.Berbekal kantong dana kampanye yang tebal itu, Barack Obama punya kesempatan mengejar posisi Hillary. Tapi langkah Obama tidaklah mudah. Pasalnya kubu Hillary sudah ancang-ancang untuk mengeluarkan senjata pamungkas pengeruk dana yang tidak lain adalah mantan suaminya Bill Clinton. Di kalangan Partai Demokrat, mantan Presiden AS ini dikenal sebagai mesin penggalang dana yang efektif karena punya jaringan dan pendukung yang luas.Biaya mencalonkan diri jadi presiden di AS memang mahal. Pada pemilu 2004, Presiden Bush menghabiskan dana US$ 306 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Lawannya, Senator John Kerry meludeskan US$ 241 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun. (eis/ary)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads