BRR NAD-Nias Didemo Lagi
Senin, 02 Jul 2007 17:15 WIB
Banda Aceh - Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias kembali didemo sejumlah wargakorban tsunami yang sampai kini masih tinggal di sejumlah barak, Senin(2/07/2007). Para pendemo mengeluh karena sampai saat ini belum mendapat rumahpermanen. Para pendemo yang berjumlah sekitar 20-an orang itu berasal dari Komite Perjuangan Rakyat untuk Perumahan (KPRP). Mereka mewakili para korban tsunami yang kini mendiami sejumlah barak di kawasan Lambaro Skep, Banda Aceh. Selain itu, KPRP juga mewakili sebagian para korban tsunami yang sudah mendapt bantuan rumah. Tetapi bantuan rumah yang diberikan sejumlah NGO internasional dianggap tak layak huni. "Barak kami sudah dibongkar Minggu kemarin karena sebagian sudah mendapatkanrumah bantuan. Kami yang tingal ada 36 KK lagi kira-kira. Sampai kapan kami dibarak, sementara pemilik tanah barak sudah mau mengusir kami," ujar seorangpenghuni barak Lambaro Skep, Nasibah (45) pada detikcom. Dituturkannya, mereka sudah mengajukan permohonan bantuan rumah ke BRR NAD-Nias. Tapi sampai saat ini, belum juga ada realisasi. Bahkan, sebagian warga barak yang sudah mendapat rumah bantuan dari BRR NAD-Nias di kawasan Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, sampai kini belum juga dapat menempati rumah mereka. "Tukangnya pada lari. Karena kontraktornya nggak mau bayar gaji tukang. Merekadibayar kalau rumah sudah siap 50 persen. Padahal, tukang-tukang itukan nggakpunya duit, mereka datang dari Medan atau Jawa," katanya lagi. Akibatnya, rumahbantuan tersebut tak kunjung usai meski sudah dikerjakan beberapa bulan lalu. Lain lagi dengan kisah Ike (30). Salah satu pendemo ini mengeluhkan rumahnya yang mirip kubangan jika hujan mengguyur Banda Aceh. Bagaimana tidak, rumah bantuan yang didapatnya dari salah satu NGO internasional itu, sudah lapuk dimakan rayap. "Selain dindingnya yang sudah dimakan rayap, pondasi yang dibuat sejajar dengan tanah. Jadi kalau hujan, ya airnya masuk. Tak hanya di ruang tamu, tapi juga ke kamar-kamar," aku perempuan yang mendapat rumah semi permanen tipe 36 ini. Maunya, kata Ike, BRR NAD-Nias perduli dengan situasi seperti ini. "Apa saja kerja orang BRR itu. Gajinya gede, tapi tidak mau turun ke lapangan. Jangan menari di atas penderitaan korban tsunami," protesnya. Bukan Pekerjaan Mudah Sementara itu, Juru Bicara BRR NAD-Nias Mirza Keumala pada wartawan mengaku memang masih ada korban tsunami yang masih tinggal di barak dan belum mendapat bantuan rumah. Hal itu terjadi karena mendata para korban yang berhak atau tidak mendapat bantuan rumah, bukanlah hal yang mudah. "Kita memang sudah menutup permohonan permintaan bantuan rumah pada 20 Mei lalu. Tapi, proses verifikasi itu masih berjalan. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi, yang kita bangun itu ratusan ribu unit rumah. Sulit rasanya untuk membuat rumah sempurna. Pasti ada beberapa persen dari ratusa ribu rumah itu yang katakanlah cacat atau tidak memenuhi standar," katanya pada wartawan usai demo di media centre BRR NAD-Nias. Disebutkannya pula, sampai saat ini BRR NAD-Nias tetap membangun dengan berpijak pada blue print dan juga mekanisme anggaran APBN yang telah disetujui. Sampai April 2007, BRR NAD-Nias telah membangun rumah permanen 64.791 unit dari kebutuhan rumah sekitar 120 ribu unit. Sementara, 6.000 lebih KK sudah direlokasi ke beberapa tempat di seluruh Aceh. Sedangkan, ada sekitar 8.000 KK yang masih tinggal di sejumlah barak.
(ray/nrl)











































