Saksi Warga TAS Kesal Dicecar Temperatur Lumpur Lapindo
Senin, 02 Jul 2007 14:53 WIB
Jakarta - Siti Aminah (56) tidak bisa menyembunyikan kekesalannya saat dicecar soal temperatur lumpur yang menenggelamkan rumahnya di Perum TAS, Sidoarjo. "Masak mau saya pegang!"Siti Aminah diminta menjadi salah satu saksi sidang legal standing YLBHI terhadap pemerintah dan Lapindo Brantas Inc. Sidang ini digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Senin (2/7/2007)."Saat lumpur masih sedikit masuk ke rumah ibu, kenapa tidak menyelamatkan barang-barang dan surat penting?" tanya pengacara Lapindo, Otto Bismarck."Ya panas," cetus Siti dengan logat medok khas Jawa Timurnya."Seberapa panas," tanya Otto lagi."Ya panas!" tegas Siti yang mulai terlihat kesal."Panasnya seperti apa?" cecar Otto."Ya panas! Masak saya pegang. Masak saya bunuh diri dalam lumpur. Coba dong sampeyan sendiri yang pegang!" cetusnya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Otto.Jawaban dan tingkah laku Siti ini membuat geli semua orang yang menyaksikan jalannya sidang yang dipimpin hakim Moefri itu.Dalam kesaksiannya, Siti juga memaparkan kondisi tempat pengungsiannya di Pasar Baru Porong."Tempat saya ngungsi itu di satu ruko 2 tingkat ukuran 4x6 meter. Itu diisi 19 KK, jadi kurang lebih ada 70 orang, campur laki perempuan," ujarnya.Dia juga menuturkan, tidak bisa menyelamatkan surat penting, surat tanah petok D dan ijazah anak-anaknya saat rumahnya dimasuki lumpur.Saksi kedua Luluk Mar'atus Solihah (23) menceritakan kronologi lumpur yang memasuki sekolah tempatnya mengajar, TK RA Nurul Islam di Kedung Bendo, Tanggulangin.Saat itu atas inisiatif pihak sekolah, dilakukan evakuasi atas barang-barang milik sekolah. "Pemerintah sama sekali tidak membantu. Sekarang sekolah itu nggak ada bekasnya," sesal dia.Sidang akan dilanjutkan tanggal 9 Juli.
(umi/nrl)











































