Ketika Kalla Bicara Ganja

- detikNews
Senin, 02 Jul 2007 08:14 WIB
Jakarta - Minggu lalu, Wapres Jusuf Kalla berwacana tentang ganja. Pada Selasa 26 Juni lalu, misalnya, Kalla menepis rencana legalisasi ganja. Tapi bukan berarti ganja dilarang habis, sebab kalau untuk bumbu penyedap dikit-dikit, bolehlah."Tidak ada itu (legalisasi ganja). Kalau campur-campur makanan sedikit barangkali ada, tapi kalau melegalkannya nggak adalah," tegas Kalla saat itu.Tak ayal ungkapan Kalla ini mendapat reaksi cukup cerkas media asing. Para jurnalis asing menyitir ucapan Kalla itu dengan judul "Top Indonesia politician okays marijuana in food", Indonesian VP: Marijuana OK As Spice, Indonesian VP endorses marijuana as cooking spice, atau pun Powerful Politician OKs Marijuana in Food. Penolakan legaliasi tidak jadi judul, tapi "izin" menggunakan ganja sebagai bumbu penyedap yang diangkat.Pada 29 Juni lalu, Kalla mengulangi lagi pernyataannya itu. "Buat resep masakan kari, gulai, itu sudah biasa. Bukan untuk teler, tapi sekadar penyebab rasa," ujarnya.Kalla juga mendukung wacana legalisasi ganja untuk keperluan industri. Tapi ada catatannya. Selama aturan baru itu dilaksanakan, semua pihak yang terlibat harus konsekuen dan diawasi ekstraketat."Kalau itu untuk kesehatan bisa saja. Tapi kalau buat teler tentu tidak boleh kan," ujarnya.Legalisasi ganja meruyak pada 31 Mei lalu. Kala itu konsultan ahli Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Direktur Pengembangan dan riset Indonesia National Institute on Drug Abuse (INIDA) Tomi Harjatno menyatakan, pihaknya bersama BNN mencoba mengkaji legalisasi ganja. "Selama ini yang dikedepankan selalu sisi negatif ganja. Padahal ganja juga mempunyai manfaat," alasan Tomi.Tomi menjelaskan, sejak dahulu hingga saat ini masyarakat Aceh menggunakan ganja untuk bumbu masak. Selain itu, di negara lain seperti Belanda, ganja sudah dilegalkan untuk dihisap di kafe dan coffee shop.Ganja di Belanda masuk dalam tingkat obat ke-4 yang artinya tingkat ringan. Tidak seperti di Indonesia yang masuk ke tingkat satu, setingkat dengan heroin dan kokain."Ada nilai positif dari daun dan batang ganja, seperti untuk membuat tas dan lainnya. Kalau daunnya memang bisa menimbulkan efek halusinogen. Tapi itu tidak sampai membuat efek negatif yang besar," jelas Tomi.Tak urung, wacana yang diusung Tomi dkk menimbulkan pro kontra di masyarakat di awal Juni. Lalu bagaimanakah akhir kajian ini?

(nrl/nvt)