INDEF Ragukan Data BPS Soal Turunnya Tingkat Pengangguran

INDEF Ragukan Data BPS Soal Turunnya Tingkat Pengangguran

- detikNews
Minggu, 01 Jul 2007 17:17 WIB
Jakarta - Angka pengangguran di Indonesia mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia turun dari 10,4 persen menjadi 9,75 persen per Februari 2007.Namun berita menggembirakan itu diragukan kebenarannya oleh Direktur Institut for Develompment of Economic And Finance (INDEF), Iman Sugema. Menurutnya, angka tersebut tak lebih dari pesanan pemerintah."Itu adalah angka pesanan dari Istana Tampak Siring, karena beberapa waktu lalu BPS dipanggil Presiden di Istana Tampak Siring," kata Iman di sela-sela diskusi bertajuk 'Angka Kemiskinan 2007, Apakah Mungkin Lebih Rendah?" di Hotel Sahid, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (1/7/2007).Pemanggilan itu menurutnya adalah preseden buruk bagi bangsa Indonesia, karena tidak seharusnya seorang presiden melakukan hal seperti itu. "Soeharto saja tidak pernah berbuat seperti itu," tambah Iman.Iman menuturkan, untuk melihat angka kemiskinan bisa dilihat dari 3 sisi, yaitu: segi income, beban hidup, dan ada tidaknya program antikemiskinan yang dibuat pemerintah.Menurutnya, jika dilihat dari ketiga sisi tersebut, di Indonesia tidak ada kemajuan. Jadi jika angka kemiskinan di Indonesia dilaporkan turun, maka hal itu tidak benar."Sebentar lagi pemerintah akan mengumumkan jumlah angka kemiskinan. Jika angka kemiskinan 2007 ini menurun berarti ini direkayasa," jelas Iman.Di tempat yang sama, anggota Tim Indonesia Bangkit, Mini Bukhori, mempersoalkan masalah angka-angka terkait dengan kemiskinan di Indonesia."Bukan masalah naik turunnya orang miskin, tapi yang jadi masalah lebih dari 60 tahun merdeka tapi kenapa masih ada orang miskin?" Mini mempertanyakan.Menurutnya, Indonesia tidak memiliki kebijakan sosial yang berkesinambungan namun hanya bersifat parsial dan sementara."Jaring Pengaman Sosial (JPS), Biaya Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Langsung Tunai (BLT), semuanya sementara. Tidak ada orientasi ke depan. Kita saat ini harus real, masih banyak orang nggak bisa makan, nggak bisa kerja. Nggak usah diutak-atik dengan angka," beber Mini.Dia berpendapat, masalah yang begitu besar yaitu kemiskinan, tidak bisa direduksi dengan angka-angka semata. (rmd/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads