Cara Polisi dan Paspampres Mengusir Penari RMS
Jumat, 29 Jun 2007 11:50 WIB
Ambon - Puluhan pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) yang menari di Lapangan Merdeka Ambon membuat Presiden SBY marah. Para pendukung RMS yang menarikan tarian cakalele (tarian perang) ini diusir dari arena lapangan dengan cara yang cukup halus. Pemantauan detikcom, Jumat (29/6/2007), di tengah guyuran hujan di saat Gubernur Maluku Albert Karel Ralahalu berpidato, puluhan penari yang bertelanjang dada dan membawa tombak serta tameng ini tiba-tiba memasuki arena lapangan. Mereka tampak menari di hadapan Presiden SBY dan rombongan para pejabat. Dari tampilannya, mereka memang seperti penari profesional. Namun, yang mengejutkan, mereka tampak membentangkan bendera RMS atau benang raja yang berwarna merah, putih, biru dan hijau ukuran jumbo. Inilah yang membuat para undangan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) terkejut. Presiden SBY dan para pejabat lain juga langsung beranjak dari kursinya, berdiri, dan menanyakan tarian pendukung RMS ini. Kapolda Maluku Brigjen Guntur Gatot Setiawan beserta para anak buahnya pun langsung turun ke lapangan. Sejumlah Paspampres yang mengenakan pakaian batik juga turun ke lapangan untuk menghalau mereka. Para penari RMS ini diminta segera pergi dari arena. Tapi, cara polisi dan Paspampres mengusir mereka cukup halus, meski ada sebagian dari mereka yang ditendang. Namun, mereka tidak langsung ditangkap begitu di lapangan. Mereka dibiarkan untuk menari dan berjoget sambil digiring ke luar lapangan. Setelah keluar dari lapangan, para penari ini ditangkap dan diperiksa oleh polisi. Namun, sejumlah orang dari mereka berhasil kabur. Bendera RMS juga disita oleh aparat.
(asy/nrl)











































