RMS Menang Jika Aparat Represif dan Terlalu Reaktif
Jumat, 29 Jun 2007 11:51 WIB
Jakarta - Aksi pendukung RMS menari cakalele lengkap dengan tombak, plus memamerkan bendera RMS di depan Presiden SBY mencengangkan. Namun angkat topi untuk polisi yang tidak bersikap represif. Pemerintah pun diminta tidak perlu terlalu reaktif."Jika tidak, justru ini menguntungkan RMS. Karena jika ini dapat sorotan yang lebih besar, momentum ini malah yang dicari mereka," kata pengamat Hubungan Internasional UI Andi Widjajanto kepada detikcom, Jumat, (29/6/2007).Insiden RMS yang terjadi dalam acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV di Ambon Maluku, menurut dia, merupakan bentuk keinginan untuk diakui oleh publik dengan memanfaatkan momentum. Namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan."Secara de facto mereka masih ada. Hanya saja kekuatan mereka sebagai gerakan politik independen tidak kuat. Hanya kelompok-kelompok kecil sporadis dengan memanfaatkan momentum, seperti HUT RMS dan kunjungan presiden," papar Andi.Andi heran betapa kegiatan SBY yang dirancang lama bisa kebobolan aksi semacam itu. Hal tersebut tidaklah normal. Dia pun menyoroti sejumlah pihak yang harus dipersalahkan."Ada sesuatu yang lobang dari mekanisme pengamanan Paspampres. Saya pikir ini tidak ada deteksi dini terhadap adanya kemungkinan terjadinya aksi tersebut. Intelijen telah gagal melakukan deteksi," kata Andi.Angkat TopiMeski polisi kebobolan aksi RMS, namun Andi mengangkat topi untuk aparat keamanan yang tidak terlalu represif dalam membubarkan aksi."Itu kabar baik sebetulnya. Tidak ada aksi yang berlebihan dari aparat keamanan yang dilakukan tanpa kekerasan. Itu ekspresi politik. Aparat keamanan tahu persis acara itu diliput luas media," kata Andi.
(anw/sss)











































