Bulan Purnama Juli, Muara Angke Masih Terancam Banjir Laut Pasang

Bulan Purnama Juli, Muara Angke Masih Terancam Banjir Laut Pasang

- detikNews
Kamis, 28 Jun 2007 17:38 WIB
Jakarta - Pertengahan bulan Juli atau tepatnya mendekati bulan purnama, warga Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, diprediksi akan kembali terendam banjir laut pasang (rob).Hal itu dikarenakan pada masa tersebut, air pasang laut mencapai titik tertinggi, yakni hingga 120 cm. Sementara tanggul yang dibuat warga masih rentan jebol karena belum permanen, hanya terbuat dari karung pasir yang ditumpuk.Prediksi itu dilontarkan oleh pengamat oseanografi dari Jawatan Hidro-Oceanografi TNI AL Letkol TNI Rosyid usai menjadi pembicaraa dalam diskusi "Gelombang Pasang Laut Jakarta" di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Kamis (28/6/2007)."Masih belum aman. Kondisinya masih sama. Kalau bulan purnama atau bulan mati, gelombang tinggi. Muara Angke rawan terendam," kata Rosyid.Untuk menghindari banjir itu, pihaknya kesulitan untuk memberikan solusi. Karena, persoalan Muara Angke telah kompleks dan menurutnya merupakan kesalahan perencanaan kota. Yang dapat dilakukan warga hanya membuat tangggul atau membuat rumah panggung untuk mengungsikan barang-barang warga."Muara Angke dampak kesalahan perencanaan. Harus diperlakukan dengan cara mengikuti karakter alam. Bikin rumah panggung. Menguruk tanah jelas sudah tidak mungkin. Memakai tanggul harus siap pompa air yang lebih banyak," ujarnya.Tak hanya Muara Angke, hampir sepanjang pantai utara Jakarta terancam gelombang air pasang seperti Marunda, Kalibaru, Cilincing, hingga kawasan wisata Ancol. Kondisi itu disebabkan badai angin barat yang mendorong gelombng tinggi hingga 3 meter."Banyak yang harus diwaspadai. Dari nelayan hingga wisatawan Ancol," ucap Rosyid.Rosyid juga tidak mengelak bila fenomena alam itu banyk dikarenakan faktor pemanasan global yang menyebabkan kenaikan air laut. Dari sinyalemen tenggelamnya Ancol hingga Bandara Halim Perdanakusuma 50 tahun lagi dapat menjadi keniscayaan."Tapi itu masih bisa direm. Itu menjadi peringatan untuk manusia biar tidak merusak bumi. Menanam pohon untuk mereproduksi oksigen, mendinginkan bumi. Itu perlu kerjasama global," pungkasnya. (Ari/sss)


Berita Terkait