Mau Cicipi Masjid Besar, 5 Muslim Aussie akan ke Istiqlal

Mau Cicipi Masjid Besar, 5 Muslim Aussie akan ke Istiqlal

- detikNews
Kamis, 28 Jun 2007 15:52 WIB
Jakarta - Pemerintah Australia mengadakan program pertukaran pemimpin muslim muda dengan organisasi Islam di Indonesia. Masjid megah dan artistik rupanya menjadi hal menarik bagi 5 pemimpin muslim muda Australia.Kunjungan ke Masjid Istiqlal dan Masjid At-Tin pun masuk agenda perjalanan di Jakarta."Mereka bisa merasakan bagaimana menjalankan ibadah sebagai mayoritas, sementara mereka (di Australia) minoritas. Kalau di Australia kan tidak ada masjid-masjid yang besar dan bagus seperti ini di sini. Kita akan ke Istiqlal dan Masjid At-Tin," kata Atase Kebudayaan Kedubes Australia, Fiona Hoggart.Hal itu disampaikannya kepada detikcom pada sela-sela acara makan siang dengan 5 pemimpin muslim muda Australia di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (28/6/2007).Penggagas program pertukaran pemimpin muslim muda itu, menurut Fiona, adalah pemerintah Australia. Pemerintah Australia berusaha untuk menjernihkan pandangan-pandangan yang salah mengenai Islam, baik di Australia maupun di Indonesia.Fiona menjelaskan, program ini sudah berjalan sejak tahun 2002. Hal ini dimaksudkan supaya bisa tercipta hubungan yang baik antar kedua negara."Istilahnya silaturahmi gitu," tutur wanita asal Australia itu dengan bahasa Indonesia yang fasih.Kelima pemimpin muslim muda Australia itu adalah Siti Dakhvlina Madkhul, Nazeem Hussain, Aamer Rahman, Sarah Malik, dan Mahsheed Ansari. Selain kunjungan ke masjid, di indonesia mereka dijadwalkan akan bertemu dengan Menag Maftuh Basyuni, tokoh Islam Indonesia, dan pergi ke sejumlah universitas ternama.Pancasila BagusKunjungan ke Indonesia menjadi pengalaman berharaga buat Sarah Malik. Wanita yang bekerja sebagai produser televisi di Sydney itu mengatakan Pancasila adalah dasar negara yang tepat untuk Indonesia."Pancasila adalah motto yang bagus untuk suatu negara yang multikultur, terdiri dari kepulauan. Sekarang bangsa Indonesia walaupun berbeda kultur tetap hidup dalam harmoni," tuturnya kepada detikcom.Sarah menambahkan, satu hal yang membuat Indonesia sangat unik adalah toleransi masyarakatnya yang dinilainya tinggi. Ia pun mengaku kagum atas beragamnya opini, budaya, dan ide yang menurutnya sangat mendukung perkembangan demokrasi.Perbedaan kehidupan muslim indonesia yang mencolok, menurut Sarah, adalah statusnya yang mayoritas. Sehingga muslim sangat berperan dalam pengambilan kebijakan negara. Hal ini berbeda dengan di Australia yang jumlahnya hanya 400 ribu orang dari populasi 20 juta orang."Saya belajar banyak. Saya akan menginformasikan (kepada masyarakat Australia). Saya kira sangat penting untuk mengetahui budaya masing-masing," jelas wanita berambut pirang itu. (gah/ana)


Berita Terkait