Gempa Laut Selatan Picu Merapi Semburkan Awan Panas
Kamis, 28 Jun 2007 15:21 WIB
Yogyakarta - Gempa tektonik di Laut Selatan beberapa hari yang lalu, memicu Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas. Akibatnya, terjadi hujan abu di beberapa wilayah di lereng selatan Merapi.Hal itu diungkapkan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Dr Ratdomo Purbo kepada wartawan di kantor Jl Cendana Yogyakarta, Kamis (28/6/2007)."Pemicu pertam munculnya awan panas kemarin antara lain gempa yang terjadi pada hari Sabtu (23/6/2007) siang dengan kekuatan sekitar 5,3 SR dan di selatan Cilacap Rabu kemarin," kata dia.Dia mengatakan kuatnya getaran gempa tektonik di Laut Selatan pada hari Sabtu 23 Juni lalu tercatat sebanyak 7 kali. Hal ini mengakibatkan dinding-dinding di sekitar kubah Merapi longsor. Setelah itu terjadi gempaguguran 18 kali. Longsornya dinding Merapi ini menimbulkan awan panas kecil ke arah Kali Krasak. Namun hal itu tidak banyak diketahui warga karena di sekitar puncak Merapi terus diselimuti kabut."Pada hari Minggu 24 Juni lalu ada awan panas 1,5 km ke arah Kali Krasak dan gempa guguran 15 kali," katanya.Selanjutnya pada hari Rabu 27 Juni kemarin kembali terjadi gempa di Laut Selatan sehingga aktivitas Merapi kembali terpengaruh. Akibatnya pada hari Rabu siang, Merapi muncul awan panas lagi dengan jarak 1 km ke arah Kali Krasak."Jadi awan panas yang muncul lebih banyak dipengaruhi gempa tektonik di laut selatan. Tercatat sebanyak 4 kali gempa yang kemudian muncul gempa guguran sebanyak 9 kali," katanya.Selama berstatus Waspada ini kata Purbo, aktivitas Merapi tidak menunjukkan adanya peningkatan dari dalam. Namun sisa kubah lava yang ada di atas hulu Kali Krasak itu runtuh atau longsor. Volume kubah yang runtuh juga kecil sekitar 250 ribu meter kubik. "Semua itu hanya keran sisa kubah lava yang tidak terhancur ke arah Kali Gendol dulu itu runtuh setelah ada gempa tektonik," katanya.Dia menambahkan berdasarkan laporan petugas Pengamat Gunung Merapi (PGM) di Kaliurang, seismograf mencatat adanya luncuran disertai awan panas pada pukul 13.38 WIB ke arah Kali Gendol. Tidak lama kemudian sekitar pukul 13.52 WIB, terjadi guguran dan awan panas ke arah Kali Gendol muncul lagi."Ini juga akibat efek gempa tektonik yang terjadi pagi hari," ungkap Purbo.Menurut dia terjadi hujan abu skala kecil di sekitar perbatasan Sleman dan Magelang seperti di daerah Tunggularum Wonokerto, Kecamatan Turi Sleman dan Srumbung Magelang akibat material awan panas terbawa angin ke arah barat. Awan panas kecil yang muncul akan menjadi abu sehingga muncul hujan abu di sekitar lereng Merapi. "Ini efek permukaan, yang sebenarnya dari sisi ancaman minimal sekali," demikian Purbo.
(bgs/djo)











































