Korban Penembakan di Pasuruan Menangis Curhat ke Gus Dur
Kamis, 28 Jun 2007 13:14 WIB
Jakarta - Air mata jatuh membasahi pipi saat korban penembakan oleh marinir di Pasuruan, Jawa Timur, menumpahkan uneg-unegnya kepada Gus Dur.9 Warga didampingi Kepala Desa Kepala Desa Alas Tlogo Imam Sunadi menyambangi Gus Dur di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/6/2007).Satu per satu warga menceritakan tragedi berdarah saat bentrokan warga dengan Marinir di Desa Alas Togo, Lekok, Pasuruan, Jatim pada Rabu 30 Mei. Salah seorang warga, Samat (54) mengatakan sempat meminta pasukan Marinir tidak menembak."Tetapi saya mendengar komandan Marinir memerintahkan menembak. Pada perintah satu, dua, tiga tembakan belum dilepaskan tetapi ketika perintah keempat Marinir langsung menembakkan ke arah tengah, tidak ke bawah. Warga berguguran. Tidak sampai berapa detik peluru tentara habis, kita dikejar-kejar," kata Samat dengan suara tercekat menahan tangis. Air mata pun menetes."Saya lari ke musala dan mendapati cucu saya Choirul Anam yang memperlihatkan perutnya sudah berdarah. Mbah kakung...perut saya berdarah," ujar Samat menirukan ucapan sang cucu.Misdi (42) juga tidak dapat menahan tangis saat menceritakan kisahnya. "Waktu itu saya ikut demo dan tiba-tiba saya dengar tembakan. Saya lari dan jatuh kok pantat saya berdarah. Saya lari lagi tetapi dikejar dan akhirnya jatuh terus dipukul sampai memar," kata Misdi sambil menangis.12 Warga diketahui sudah dimintai keterangan dalam kasus yang merenggut nyawa 4 orang ini.Gus Dur yang mengenakan baju batik warna coklat tampak serius mendengarkan cerita warga Pasuruan.
(aan/asy)











































