Kronologi Pengambilan DPT di PPS Bungur
Kamis, 28 Jun 2007 06:17 WIB
Jakarta - Media massa memberitakan sejumlah kader PKS merampas dan mencuri Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari beberapa Panitia Pemungutan Suara (PPS). Namun partai yang mengusung Adang Daradjatun dan Dani Anwar menilai tuduhan itu sangat berlebihan.Demikian rilis PKS yang diterima detikcom, Kamis (28/6/2007).Dalam rilis tersebut, seorang kader PKS bernama Ismail memberikan penjelasan mengenai kronologi peristiwa di PPS Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat pada Selasa 26 Juni 2007.Menurut Ismail, pencurian dan perampasan di PPS Bungur tidak pernah ada."Sebenarnya sudah DPT itu sudah diminta sejak tanggal 25 Juni, namun dengan alasan yang tidak jelas Ketua PPS tidak memberikan. Salah satu alasannya instruksi KPU yang tidak memperbolehkan," tutur Ismail yang merupakan penduduk setempat.Melihat sikap petugas, Ismail pun berargumen bahwa DPT menurut peraturan boleh diakses oleh publik. Akhirnya petugas pun mengizinkan dokumen digandakan."Selama menunggu proses penggandaan tersebut tidak ada tindakan kekerasan sama sekali di PPS. Baik yang dilakukan oleh warga yang meminta DPT, ataupun oleh aparat kelurahan dan PPS. Kita semua mengobrol santai saja kok," tutur Ismail.Setelah dokumen difotokopi, DPT pun dikembalikan ke PPS Bungur. Namu tiba-tiba seorang dari KPU DKI Jakarta yang biasa dipanggil Habib meminta Ismail mengembalikan DPT yang telah difotokopi."Dia minta fotokopian dikembalikan. Tapi saya tidak mau karena dia tidak bisa menyebutkan alasannya," tandas Ismail.Perdebatan panjang antara Ismail dan Habib pun terjadi dan ditonton banyak orang. Perdebatan baru berakhir ketika azan Maghrib berkumandang.
(ken/ken)











































