Trik Agar Busway Tak Diserobot
Rabu, 27 Jun 2007 12:02 WIB
Jakarta - Kerry A Manoppo punya ide agar busway tidak diserobot oleh kendaraan pribadi, yaitu dengan memasang barikade.Berikut pendapat Kerry dan juga pembaca yang jengah dengan busway yang dipenuhi kendaraan pribadi sehingga naik Transjakarta mirip naik angkutan non-Transjakarta:Kerry A. ManoppoKendaraan non-Transjakarta yang menyerobot masuk ke jalur busway adalah masalah klasik yang sudah lama terjadi. Ironisnya, yang sering saya saksikan adalah polisi justru malah mengarahkan kendaraan non-Transjakarta untuk masuk ke jalur busway. Rambu dan peraturan lalu-lintas malah diabaikan dan dilanggar oleh polisi yang mengarahkan kendaraan non-Transjakarta untuk masuk ke jalur busway. Saya sering menyaksikan ini di jalur busway sepanjang Tomang Raya, dan S. Parman (depan Mal Taman Anggrek dan gedung Telkom Jakarta Barat).Akibat tindakan yang dilakukan polisi ini, laju bus Transjakarta menjadi tersendat cukup lama. Maka saya mengusulkan kepada otoritas yang berwenang untuk membuat semacam barikade beton di mulut setiap jalur busway yang rawan diserobot. Tinggi dan lebar barikade tersebut adalah selebar dan setinggi as roda belakang dan gardan bus Transjakarta. Kendaraan non-Transjakarta akan nyangkut di barikade ini jika memaksakan untuk masuk ke jalur busway. Walaupun polisi mengarahkan untuk masuk ke jalur busway, tidak ada kendaraan non-Transjakarta yang berani masuk, karena pasti nyangkut di barikade ini. Ini ilustrasi gambaran barikade beton yang saya maksud:http://img209.imageshack.us/img209/4530/kerryya8ru8.jpgSemoga konsep ini dapat menjadi solusi permasalahan selama ini, agar insiden yang terjadi Senin (25/6/2007) dan banyaknya kendaraan non-Transjakarta yang menyerobot tidak terjadi lagi.Setiadjit SantosaPenulis bukan pengguna rutin busway. Namun dalam beberapa diskusi dengan teman-teman di Forum Perkotaan Bogor, HSTH (Hotel Salak The Heritage), BUILD/UMA dan forum lainnya serta melihat paparan pembangunan Kota Bogota oleh sejawat Rudi Thehamiharja (Organda, PO Indah Murni) sejak tahun 2005 lalu, penulis sepakat dengan tindakan aparat Dishub Jakarta Pusat yang melarang mobil pribadi masuk jalur busway kecuali dalam keadaan darurat yang sangat memaksa.Penataan transportasi ibukota harus didukung oleh segenap aparat pemerintah dan masyarakat. Sayang masih banyak aparat dan masyarakat yang tidak mendukung upaya penataan transportasi. Sebagai contoh upaya sejawat Rudi Thehamiharja yang merintis bus-feeder busway dari Taman Yasmin Kota Bogor malahan tidak mendapat dukungan memadai dari aparat Pemkot Bogor dan juga operator angkutan umum. Padahal animo pengguna bus feeder ini sangat banyak dan hal ini ditunjukkan saat sejawat Rudi mengadakan jumpa peminat bus feeder busway (ada notulen dan daftar hadir) dan telah dibuktikan dengan uji coba bus feeder dari Taman Yasmin menuju Ratu Plasa dan Lapangan Banteng.Respon Polantas yang acapkali membiarkan mobil pribadi masuk jalur busway juga perlu dipertanyakan apakah ada motif lainnya. Hal yang juga pernah penulis sampaikan SMS kepada sejawat Rudi Th. Agar memforward ke Ditlantas Polda dan Organda DKI, sejawat Rizal Barnadi (anggota DPRD Kota Bogor FPAN) agar meneruskan kepada sejawatnya di FPAN DPRD DKI dan terkahir kepada sejawat Syumnajaya Rukmandis (anggota DPR RI 1999-2004, FPKS) agar meneruskan kepada sejawatnya di DPRD DKI FPKS Igo Ilham. Sebagai pengguna Jalan Sutoyo penulis seringkali melihat petugas Polantas yang bertugas didepan UKI selalu melarang bis penumpang umum dari Kota Bogor menurunkan penumpang di Halte UKI dan memaksanya langsung masuk trowongan. Padahal mayoritas penumpang ingin menggunakan busway menuju tempat kerjanya, menuju Kuningan dan Sudirman. Akhirnya banyak penumpang terpaksa turun dimulut lorong dan menyeberang jalan tanpa menghiraukan keselamatan dirinya masing-masing.Begitulah pendapat penulis sebagai warga negara yang sangat setuju dengan penggunaan kendaraan umum sebagai pilihan menuju tempat kerja. Hemat biaya, hemat energi dan kurangi emisi gas buang. Sukses Bogota dalam penataan kota dan transportasi hendaknya menjadi acuan bagi pemerintah dan masyaralat untuk mewujudkan Jakarta menjadi kota yang bermartabat.Damar Triadi LanjonoSaya (28 tahun, karyawan bank) dulu adalah pengguna busway koridor III (Harmoni-Kalideres). Pada 3 bulan pertama setelah peresmian busawy koridor III ini, efektivitasnya sangat terasa. Dalam melewati jalur Tomang, busway hanya memerlukan waktu 7 menit (dari perempatan Harmoni sampai Simpang Susun Tomang), dan total waktu antara Harmoni-Pasar Baru-Taman Kota hanya memerlukan waktu 20 menitan (Padahal dulu Halte Harmoni belum jadi dan bus Transjakarta harus bergabung dengan lalu lintas umum di simpang Harmoni).Namun pada bulan-bulan April 2006-an, polisi mulai memasukkan kendaraan pribadi ke jalur busway di jalan Balikpapan, sehingga menambah lama waktu tempuh 10 menit. Semakin hari polisi semakin sembrono memasukkan kendaraan pribadi ke jalur busway, saat itu bahkan sampai jalur busway di Jalan Tomang Raya. Karena itu, waktu tempuh yang tadinya 7 menit molor parah menjadi 35 menit, sehingga total waktu tempu Harmoni-Pasar Baru-Taman Kota menjadi 1 jam 5 menit.Kerugian yang dialami penumpang busway tidak hanya waktu tempuh yang lebih lama, tapi waktu tunggu (Headway) bus Transjakarta yang molor dari dulu (ketika bus koridor III masih sedikit) 15 menitan menjadi sampai 45 menit (padahal bus koridor III sudah banyak dan halte Harmoni sudah operasional).Penderitaan penumpang busway tampaknya tidak menjadi perhatian polisi yang terus memasukkan kendaraan pribadi ke jalur busway. Kalau begitu, apa gunanya busway? Sekarang saya menggunakan kendaraan pribadi lagi. Tampaknya ego sektoral di negeri kita masih jauh dari dimusnahkan, padahal yang menanggung akibatnya masyarakat juga. Agung AEntah sudah lama bangsa kita tidak peka soal law. Pemasuk ke jalur busway harus ditindak tegas, tidak pandang siapa pelakunya. Kalau tidak mau macet gunakanlah public transport (dengan catatan: bahwa pemerintah juga harus memperhatikan tentang kenyamanan dan keselamatan konsumen, jangan hanya menciptakan tanpa jaminan). Pengalaman pahit kalau antre busway sekitar jam 4 sore keatas, sudah penuh sesak, bau dan tanpa AC di halte. Entah kapan pasti ada korban yang terinjak injak.Wilson ChenSaya adalah pengguna bus Transjakarta ke kantor setiap hari dari Kalideres menuju Pulogadung dan sebaliknya. Sudah tidak heran lagi kendaraan pribadi masuk ke busway dan sangat disayangkan adalah atas perintah oknum-oknum polisi terutama di depan perempatan Jalan Biak sehingga busway tersebut dipadati oleh kendaraan pribadi dari jembatan Tomang hingga lampu merah Tomang. Sehingga jalur di depan Mal Taman Anggrek sering dimasuki oleh kendaraan pribadi padahal di depan tersebut ada tenda pos polisi yang sering mengatur lalu lintas disana seolah-olah tidak peduli busway tersebut disusupi oleh kendaraan pribadi. Jika hal ini tidak ditanggapi dengan serius dan dijalankan serta kerjasama secara konsisten oleh pihak-pihak yang terkait maka jangan berharap Transjakarta yang sudah dibangun mahal dengan menggunakan uang masyarakat dari pajak disebut sebagai angkutan umum yang nyaman.KermaSaya pengguna Transjakarta Koridor VI (Ragunan- Halimun). Tiap pagi, yang paling bikin kesal adalah masuknya kendaraan lain (mobil plus motor) ke jalur busway selepas dari Halte Mampang Prapatan sampai ke lampu merah perempatan Kuningan. Walau jaraknya tidak terlalu panjang , namun antrean panjang di jalur tersebut menjadi sangat lama, mengingat lampu merah baru berganti ke hijau tiap 90 detik. Benar-benar ngesalin, karena Transjakarta tercepit diantara mobil dan motor yang masuk ke jalur busway. Harapan saya, polisi yang lagi bertugas di sepanjang jalur busway TIDAK membiarkan kendaraan lain masuk, karena tujuan kita menggunakan jasa Trans Jakarta adalah efisiensi waktu. Kalo begini terus, sama saja kita naik bus di jalur arteri. Robertus Y NungguKendaraan pribadi masuk ke dalam jalur busway harus ditilang, karena jalur busway hanya dikhususkan untuk transjakarta, tidak terkecuali walaupun itu presiden dan wakil presiden, karena dalam pembangunan busway pemerintah sudah membuat perencanaan yang begitu lama dan memanggil ahli dari luar negeri serta sudah banyak menghabiskan uang, tetapi andaikata saja ada petugas yang memperbolehkan kendaraan pribadi masuk ke jalur busway itu sama saja tidak menunjang proyek pemerintah. Dan proyek ini walaupun perencanannya bagus tidak akan berhasil karena tidak didukung oleh ptugas dilapangan dan oleh karena itu, tidak ada alasan apapun untuk kendaraan pribadi masuk jalur busway.Wiwi Rachmawianti Tidak seharusnya bapak-bapak polisi memasukan mobil dan motor pribadi masuk ke jalur busway. Bukannya mengurangi kemacetan, justru malah menambah kemacetan.Mobil pribadi sih enak aja masuk jalur busway, walaupun macet mereka bisa duduk nyaman. Kalau yang naik busway? Sudah berdiri, desak-desakan, macet pula. Bapak-bapak polisi itu jangan seenak-enaknya memasukan mobil-mobil pribadi ke jalur busway. YanieSaya pengguna bus Transjakarta Koridor VI. Sejak penggunaan Transjakarta Koridor VI ini diresmikan bulan Januari yang lalu, saya selalu naik bus ini, karena kantor saya berada di bilangan Kuningan dan saya tinggal di Ciganjur. Cukup nyaman memang, meskipun sering harus berdiri berdesakan tidak masalah bagi saya, toch cuma 30 menit. Tapi sering jarak Ragunan - halte GOR Sumantri yang harusnya bisa ditempuh dalam 30 menit (paling lama) menjadi 45 - 60 menit kalau bus tsb berangkat dari Ragunan sekitar jam 7.00 pagi. Kenapa? Karena bus sering jalan tersendat mulai di halte/lampu merah Dept. Pertanian bisa sampai dengan pertigaan Mangga Besar/halte Pejaten. Biasanya di jalur ini mobil pribadi, juga motor ikut-2-an dengan tanpa rasa bersalah masuk ke jalur busway. Sesudah halte Pejaten perjalanan bus mulai lancar sampai halte Mampang Prapatan. Nah, jalan busTrans Jakarta dari halte ini juga sering tersendat, karena lagi-lagi mobil pribadi masuk ke busway. Menjengkelkan sekali. Menurut saya para pemilik mobil pribadi ini amat sangat arogan. Kalau tidak mau macet ikutlah berdesakan seperti kami dalam bus Trans Jakarta. Memalukan sekali, mereka itu orang kaya, punya mobil dan pasti punya posisi bagus di instansinya tapi tidak tahu aturan. Dalam hal ini polisi harus tegas, busway hanya untuk bus TransJakarta, tidak perlu ditilang asal kalau sampai lampu merah mereka-mereka yang sombong ini suruh putar balik, biar menikmati macet yang berkepanjangan. Ini lebih menyakitkan daripada ditilang. Kalau tidak ada ketegasan dari aparat pemerintah yang berwenang mengatur jalan raya, kapan jalan-jalan di Jakarta ini nyaman? Adanya TransJakarta saya kira untuk mengurangi kemacetan jalan-jalan yang padat pada waktu rush hours, jangan malah TransJakarta ikut dimacetkan. Kasihan dong wong cilik, jangan disuruh ngalah terus.
(nrl/nrl)











































