Produksi Opium di Afghan Meningkat 50%, PBB Cemas
Selasa, 26 Jun 2007 11:27 WIB
Vienna - Produksi opium di wilayah segitiga emas yakni Myanmar, Thailand dan Laos nyaris tiada lagi. Namun di Afghanistan ternyata malah terus diproduksi secara besar-besaran. Upaya membabat produksi opium pun berantakan.Demikian laporan tahun 2007 yang dikeluarkan badan dunia PBB untuk urusan obat-obatan dan kejahatan (UNODC) seperti dilansir AFP, Selasa (26/6/2007).Laporan itu menyebutkan, wilayah segitiga emas di Asia Tenggara yang pernah menjadi salah satu penghasil heroin terbesar di dunia itu kini berstatus hampir bebas opium.Namun produksi opium di seluruh dunia malah mencapai 6.610 ton pada tahun 2006, atau naik 43 persen dari tahun 2005."Ini karena ada produksi opium besar-besaran dan berkelanjutan di Afghanistan. Padahal produksi dan konsumsi ganja, kokain, amphetamine, dan ekstasi stabil," sebut laporan UNODC pimpinan Antonio Maria Costa yang dirilis di Vienna.Afghanistan dianggap bertanggung jawab atas 92 persen produksi bahan baku heroin tersebut, atau naik hampir 50 persen dari tahun lalu. Produksinya terkonsentrasi di selatan Provinsi Helmand.Disebutkan UNODC, produksi opium di negara yang sarat konflik itu menghasilkan US$ 3 miliar per tahunnya. Dana ini juga dipakai Taliban untuk bisa tetap menguasai Afghanistan.UNODC cemas dengan lonjakan produksi opium tersebut karena biasanya akan diikuti dengan lonjakan perdagangan obat terlarang di dunia. Dunia juga semakin rentan terhadap penyebaran virus HIV/AIDS karena penggunaan heroin dengan jarum suntik.
(sss/ana)











































