1.000 TKI di Malaysia Ditelantarkan Majikan

1.000 TKI di Malaysia Ditelantarkan Majikan

- detikNews
Senin, 25 Jun 2007 00:02 WIB
Kuala Lumpur - Kasus kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi TKI di Malaysia bukanlah sekadar cerita. Lebih dari 1.000 kasus setiap tahunnya, TKI di Malaysia mencari perlindungan ke KBRI di Kuala Lumpur akibat ditelantarkan oleh majikan mereka. Bahkan kebanyakan para TKI harus menjalani hidup bertahun-tahun di negeri Jiran itu tanpa upah dan seringkali mendapat kekerasan seksual dari majikan mereka."Kami menangani lebih dari 1.000 kasus setiap tahunnya. Kebanyakan mereka adalah tenaga kerja wanita (TKW) yang datang ke kedutaan untuk meminta perlindungan," kata Kepala Satgas Perlindungan dan Pelayanan WNI KBRI Kuala Lumpur, Tatang Razak, sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Senin (25/6/2007). Menurut Tatang, tidak sedikit para TKI yang tidak dibayar selama dua, tiga hingga empat tahun bekerja. Bahkan banyak yang mengalami kekerasan seksual.Tatang mengatakan KBRI di Kuala Lumpur akan selalu membantu TKW untuk mendapatkan kembali hak mereka yang ditelantarkan oleh para majikan. Upaya itu, lanjut dia, dilakukan melalui perantara agen penyalur tenaga kerja yang mengirim para TKW tersebut ke Malaysia."Saat ini sedikitnya 80 TKW asal Indonesia tinggal di penampungan yang di dalam area kedutaan. 300 TKI lainnya telah dipulangkan dalam delapan bulan terakhir," beber TatangPengacara senior yang juga anggota partai oposisi Partai Aksi Demokrasi (PAD) Theresa Kok mengatakan, telah berkunjung ke penampungan bersama dua politisi lainnya untuk memperoleh informasi tentang kondisi para TKI dan akan berjanji untuk membawanya ke Parlemen."Kami berkunjung ke penampungan mereka. Kami kaget ketika mengetahui ada lebih dari 1.000 kasus setiap tahunnya dan para majikan mereka tidak tersentuh hukum dan tidak dibawa ke pengadilan," cetus Kok. Pemerintah Malaysia sangat mempercayai tenaga kerja wanita asal luar negeri, tapi mereka sangat minimalis dalam melindungi para tenaga asing tersebut. Banyak TKW yang hidup dan bekerja untuk majikannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dengan upah US$ 130 per bulan. (rmd/mly)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads