JK-Puan Tidak Populer, Peluang Menang Kecil

JK-Puan Tidak Populer, Peluang Menang Kecil

- detikNews
Senin, 25 Jun 2007 11:24 WIB
Jakarta - Meski kini menduduki posisi RI 2, popularitas Jusuf Kalla ternyata jauh dari populer dibandingkan SBY, Megawati, Wiranto dan Amien Rais. Karena itu, kans Kalla meraup suara dalam Pilpres 2009 sangat kecil, apalagi jika dipasangkan dengan Puan Maharani."Dari data yang kami punya, kemungkinan kalau dua orang ini dipasangkan tidak populer," kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Isra Ramli kepada detikcom, Senin (25/6/2007).Kalla, imbuh Isra, hanya populer bagi pemilih di wilayah Indonesia Timur. Sementara jumlah pemilih di wilayah itu sangat kecil. "100 Persen di sana, tidak lebih 20 persen. Walau jumlah wilayahnya luas, pemilihnya tidak banyak. Apalagi secara nasional, popularitas Kalla masih kalah dibanding Amien Rais," tutur Isra.Dari hasil survei yang dilakukan LSI pada Maret 2007 lalu, figur SBY masih sangat populer di mata masyarakat disusul Megawati Soekarnoputri, Jenderal Purn Wiranto, dan Amien Rais. "Kalla ada di posisi kelima atau keenam. Dia bersaing dengan Hidayat Nurwahid," katanya.Di Pulau Jawa yang jumlah pemilihnya mencapai 60 persen, figur Kalla justru tidak cukup populer.Sementara Puan, gaung politiknya sama sekali tidak terdengar. "Hampir tidak ada. Orang masih mengenal ibunya (Megawati), kecuali jika dia mulai disosialisasikan sebagai pengganti Mega," ujarnya.Sosialisasi pertama tentunya di tubuh internal PDIP, baru langkah selanjutnya di kalangan non partai.Sebab meski beberapa kali melakukan kegiatan sosial seperti membantu korban bencana alam, tidak berarti aktivitas sosial Puan sejalan dengan persepsi pemilih bahwa dia bisa dijadikan pemimpin."Karena itu butuh sosialisasi, perlu didongkrak habis-habisan, dan diperjelas keinginannya untuk maju. Juga bahwa ada proses transisi kepemimpinan," ujar Isra.Namun bisa jadi, imbuh Isra, wacana menyandingkan Kalla dan Puan dalam Pilpres 2009 nanti hanya untuk mengetes respons orang terhadap isu ini. "Saya lihat ini belum serius, terutama dari sisi kans perolehan suara. Belum lagi dari segi kimia, apakah Kalla mau didampingi orang yang masih muda," ujar dia.Sebab reputasi Puan sepenuhnya bergantung pada ibunya, bukan reputasi yang dibangunnya sendiri. "Beda dengan tokoh muda yang dikenal publik, seperti Budiman Sujatmiko, misalnya," kata dia.Beda dengan IndiaApalagi publik Indonesia, katanya, tidak seperti publik India. Di India tidak masalah kekuasaan seseorang diwarisi secara otomatis ke anak cucunya. "Memang di tingkat lokal masih bisa, tapi untuk nasional sulit terjadi karena ada media, ada kaum intelektual yang bisa melakukan kritik. Rasionalitas publik Indonesia cukup bagus. Misalnya, Tutut. Dia tidak akan otomatis dipilih pengagum Soeharto," ujar dia.Karena itu, mampu tidaknya Puan jadi pendamping Kalla nanti sangat tergantung kinerja parpol besar seperti PDIP untuk memperkenalkannya kepada publik, terutama kepada pemilihnya yang terkenal loyal. (umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads