Kronologi Bentrok BEJ versi PBHI

Kronologi Bentrok BEJ versi PBHI

- detikNews
Jumat, 22 Jun 2007 19:29 WIB
Jakarta - Meski sudah reformasi, aksi pengebirian demokrasi masih terus berlangsung di negeri ini. Demonstrasi PBHI dan ISKA (Ikatan Solidaritas Karyawan) RCTI yang awalnya berlangsung damai, berakhir ricuh karena aksi pemukulan.Berikut kronologi kejadian, seperti disampaikan secara tertulis oleh koordinator aksi yang juga Staf Divisi Kajian dan Kampanye PBHI Ridwan Darmawan kepada detikcom, Jumat (22/6/2007).Aksi ini berawal dari pemutusan hubungan kerja oleh pihak RCTI pada tahun 1999 terhadap 250 karyawan RCTI (Sonni Ginting, Dkk), yang kemudian bersama PBHI melakukan perjuangan legal untuk membela hak-hak legal para pekerja ini. Perjuangan legal ini sudah sampai pada tingkat MA.Putusan MA No. 425 K/TUN/2000 Jo putusan P4P No. 628/1210/311-8/IX/PHK/04-2003 menyatakan menolak permohonan ijin pengusaha RCTI untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap saudara Sonni Ginting, Dkk. RCTI diwajibkan untuk menerima kembali para pekerja untuk bekerja seperti semula, namun sampai 2007 ini belum dipenuhi RCTI.Kamis 21 Juni 2007Pukul 10 WIB, setelah mendengar rencana go public RCTI, PBHI bersama Iska (Ikatan Solidaritas Karyawan) RCTI berniat melakukan aksi dan konferensi pers. Mereka memandang go public itu menutupi-nutupi citra RCTI sebenarnya.Pukul 15.30 WIB, dilangsungkan rapat teklap (teknis lapangan) yang dilanjutkan mengirim surat pemberitahuan kepada Kepala Polisi Daerah Metro Jaya dengan nomor surat 178/eks/litham-PBHI/V/07 PBHI. Surat itu intinya memberitahukan bahwa Semarak (Solidaritas Masyarakat untuk Karyawan) RCTI akan melakukan aksi damai di Gedung BEJ Jalan Jenderal Sudirman Kav 52-53, Jakarta Selatan, Jumat 22 Juni 2007 pukul 09.00 WIB sampai selesai.Jumat 22 Juni 2007Pukul 10.30 WIB, massa aksi Semarak RCTI dengan mengendarai dua bus metromini dan beberapa sepeda motor tiba di depan gedung BEJ dan langsung membentangkan spanduk disertai dengan orasi-orasi pembukaan. Pihak keamanan dari Security Group Artha (SGA) mencoba untuk menghalang-halangi aksi massa tersebut dengan mengarahkan massa ke belakang Gedung BEJ.Tetapi massa aksi tetap malaksanakan orasi dan teatrikal di depan gerbang Gedung BEJ. Dilanjutkan dengan dukungan orasi dari FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), KAM Laksi 31 (Kesatuan Aksi Mahasiswa Laksi 31), ABM (Aliansi Buruh Mengguggat), dan lain-lain.Pukul 10.40 WIB terjadi kesepakatan antara massa aksi dengan aparat keamanan dari SGA bahwa aksi massa akan berlangsung selama satu jam.Pukul 10.50 WIB tiba-tiba terjadi ketegangan kembali dengan pihak SGA dan seorang berpakaian preman yang mengaku dari Polda Metro Jaya, yang meminta pimpinan massa aksi untuk menunjukkan surat pemberitahuan aksi massa tersebut ke Polda dan meminta kepada massa aksi untuk berpindah ke belakang Gedung BEJ.Perwakilan massa aksi kemudian memperlihatkan surat pemberitahuan kepada Kapolda Metro Jaya bernomor 178/eks/litham-PBHI/V/07 PBHI dan kembali mengingatkan bahwa kesepakatan pertama aksi berakhir pada pukul 11.30 WIB kepada seorang polisi dan SGA.Pukul 11.25 WIB tiba-tiba seseorang yang mengaku dari Polda Metro Jaya yang berpakaian safari berinisial WN berteriak-teriak "Kalian bubar atau kami yang bubarkan". Kemudian disambut oleh aparat keamanan dari SGA dengan berkata "Ayo kita bubarkan". Beberapa orang SGA berlari sambil menendang, memukul, memaki dan menghancurkan perlengkapan teatrikal yang berupa kerangkeng. Mereka juga menendang serta menginjak-injak pemain teatrikal yang bernama Ardi (22 thn anggota KAM Laksi 31).Setelah itu, petugas keamanan dari SGA merangsek dan mengejar massa aksi. Sembari membawa kayu, aparat SGA mengejar massa aksi, dan selanjutnya memukul metromini peserta aksi hingga pecah kacanya.Johnson Panjaitan (Ketua PBHI) yang saat itu sedang diwawancarai di belakang barisan, kaget dan menanyakan baik-baik pada aparat. Namun, para petugas keamanan SGA langsung mengerubuti Johnson dengan didorong-dorong, memukul dan mencakar.Selain massa aksi, beberapa wartawan juga turut merasakan kebringasan aparat. Kamerawan Indosiar dan SCTV pun sempat marah karena ikut didorong-dorong aparat SGA saat melakukan wawancara.Begitu serangan usai, para penyerang menghilang dengan mobil Kuda bertuliskan SGA. Tersisa di sekitar tempat aksi seorang polisi bernama Jatari dan penanggungjawab keamanan BEJ bernama Vence Kodongan. Ketika diprotes oleh Johnson, kedua petugas keamanan tersebut menyatakan tidak mengetahui kejadian tersebut. Pukul 14.00 WIB, Johnson Panjaitan berangkat ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan kekerasan ini dan korban luka dibawa ke rumah sakit untuk diobati dan divisum. Berikut daftar korban pemukulan menurut PBHI:1. Rahmat Pasau (30), Ketua Pimnas Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), ditendang dari belakang2. Ismail (18), anggota Barisan Penumbang, ditendang3. Lisan (16), anggota Barisan Penumbang, ditendang tangannya4. Jamal (20), anggota Barisan Penumbang, ditendang dadanya.Atas kejadian yang mencoreng demokrasi dan HAM ini, PBHI menyatakan prihatin. "Padahal Pelapor Khusus Para Pembela HAM PBB Hina Jilani baru saja berkunjung ke Indonesia dan prihatin atas situasi Para Pembela HAM Indonesia yang penuh represi," tandas Ridwan mengakhiri pernyataan tertulisnya. (aba/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads