Warga OKU Sumsel Tolak Lokasi Tempur RI-Singapura

Warga OKU Sumsel Tolak Lokasi Tempur RI-Singapura

- detikNews
Jumat, 22 Jun 2007 15:47 WIB
Palembang - Rencana kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, sebagai pusat latihan tempur yang merupakan bagian dari Defence Cooperation Agreement (DCA) pemerintah Indonesia dengan Singapura, ditolak sebagian masyarakat. "Kami menolak. Warga OKU menolak. Latihan tempur itu sangat merugikan Indonesia secara keseluruhan dan rakyat OKU. Apalagi dalam kerja sama itu Singapura bisa mengajak sekutunya," kata Indra, seorang aktivis dari DPC PPP OKU, melalui telepon, Jumat (22/06/2007).Selain itu, jika lokasi hutan di OKU dijadikan latihan tempur atau perang, dipastikan para petani akan ketakutan bekerja. "Seperti halnya nelayan di Riau yang ketakutan terkena ranjau dan bom," katanya.Pernyataan Indra ini merupakan sikap lanjutan dari warga OKU. Sebab selama sepekan ini, sudah dua kali aksi menolak OKU sebagai lokasi latihan tempur Indonesia dengan Singapura. Pada Selasa (19/06/2007), ratusan orang dari GMNI dan mahasiswa di Baturaja melakukan aksi ke kantor pemerintah dan legislatif OKU di Baturaja, ibukota kabupaten OKU. Dan, Kamis (21/06/2007) kemarin, aktivis GMNI, mahasiswa, membaur dengan aktivis partai politik seperti dari DPC PPP, DPC PDI-P, DPC PAN, serta Paguyuban Paku Banten OKU, kembali menolak rencana pemerintah Indonesia tersebut. Bahkan di dalam yel-yel saat aksi ke kantor pemerintah dan legislatif OKU itu, para pengunjukrasa berteriak, "Waspadai aksi Israel dan sekutunya Singapura!"Bagaimana dengan sikap pemerintah di OKU? Meskipun mengeluarkan pendapat dengan dalil suara pribadi, Ketua DPRD OKU Botanazar tidak setuju dengan rencana kerjasama Indonesia-Singapura itu. "Tapi secara lembaga kita harus mengikuti prosedur dulu sebelum mengambil keputusan," katanya. Penolakan secara pribadi juga disampaikan Wakil Bupati OKU Yulius Nawawi. "Saya setuju menolak, apalagi memang perjanjian itu harga diri Indonesia terinjak, tak hanya rakyat OKU tapi seluruh rakyat Indonesia menolaknya," katanya.Beberapa warga di Baturaja juga menolaknya. "Jangan-jangan. Nanti banyak persoalan di tempat kami. Mana tahu ada peluru nyasar, atau ada ranjau atau bom yang tertanam seperti peninggalan jaman Belanda dan Jepang dulu," kata Kiagus Amiruddin, warga Baturaja melalui telepon. "Pakai saja daerah yang tidak ada manusianya. Misalnya pulau-pulau terpencil," lanjutnya. (tw/asy)


Berita Terkait