Pemerintah Diminta Canangkan Hari Screening Kanker Serviks
Jumat, 22 Jun 2007 15:21 WIB
Jakarta - Setiap harinya di Indonesia, ditemukan 41 kasus kanker mulut rahim (serviks) dan 20 kematian gara-gara penyakit itu (data Globocan 2002). Pemerintah diminta jangan tinggal diam."Apabila 3 tahun sekali saja pemerintah mencanangkan hari screening kanker serviks di seluruh Indonesia, maka angka wanita yang berisiko akan menurun hingga 90 persen," kata pakar ginekologi Dr dr Endy Muhardin Moegni SpOg.Hal disampaikan dalam jumpa pers di Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI, Jl Kimia, Jakarta (22/6/2007). Dr dr Endy dikukuhkan sebagai profesor pada Sabtu besok.Jumlah penderita kanker serviks sebenarnya dapat diturunkan dengan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Idealnya, pap smear itu dilakukan pada 80 persen perempuan dari populasi yang berisiko."Bila belum memungkinkan, WHO menyarankan untuk setiap perempuan memeriksakan dirinya. Setidaknya satu kali, saat berusia 45 tahun," kata Hendy.Deteksi MurahSejumlah kondisi menghambat wanita melakukan pap smear. Misalnya, tidak semua kota di Indonesia memiliki laboratorium untuk mendeteksi penyakit ini. Namun jika tes ini dianggap mahal, ada cara lebih murah yang sama efektifnya."Caranya dengan menyemprotkan asam cuka yang berkonsentrasi 3 persen ke mulut rahim. Ditunggu saja, nanti akan ada hasilnya," kata Hendy.Jika permukaan mulut rahim mengalami perubahan berupa bercak putih seperti panu, artinya human papiloma virus (HPV) telah menyerang. "Ini sama sensitifnya dengan pap smear. Yang paling penting, jika stadium prakanker langsung diobati, HPV bisa hilang sampai 100 persen atau sembuh total. Namun jika sudah masuk stadium kanker, risiko sembuh semakin turun," jelas Hendy.
(fiq/nrl)











































