Pembongkaran Gedung
Listrik Mati, Terjebak di Lift
Jumat, 22 Jun 2007 10:00 WIB
Jakarta - 14 Juni 2007 lalu sungguh hari yang sulit bagi pelaksana proyek pembangunan Apartemen Marbella, Jl Bangka, Jakarta Selatan. Ratusan warga di kanan kiri pembangunan apartemen itu mendemo proyek tersebut pada pukul 22.00 WIB.Demo itu digelar warga yang kesal karena listrik di rumah mereka mati sejak pukul 14.00 WIB. Mereka menduga gardu listrik di perkampungan itu error gara-gara pembangunan apartemen dengan harga per unit mulai Rp 250 juta itu. Bukan kali itu saja mati listrik itu terjadi. Setelah berjam-jam demo, listrik akhirnya menyala pukul 01.00 WIB. Warga pun bubar. Mereka mendapat ganti rugi Rp 500 ribu, dibagi untuk semua korban mati lampu.Pembangunan gedung memang selalu berdampak. Jalan kampung jadi kotor, listrik jadi mati, suara bising membahana, selalu menemani pembangunan gedung, utamanya bangunan pencakar langit. Pembongkaran bangunan bertingkat juga setali tiga uang. Pembongkaran gedung Departemen Agama (Depag) yang lama di Jl Thamrin, Jakarta Pusat, dikeluhkan pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Gedung BPPT terletak persis di samping dan belakang lokasi pembongkaran."Wah debunya itu. Pintu gedung 2 aja sampai ditutup biar nggak kena debu. Petugas cleaning service ngeluh sama saya katanya lantai cepat berdebu lagi padahal baru selesai dipel," tutur satpam BPPT, Ahmad (32), pada detikcom awal pekan ini.Ahmad menceritakan getaran proyek pembongkaran terasa sampai kantornya. Bahkan ada pada tanggal 24 Mei lalu, bangunan yang roboh menyebabkan listrik di kantornya terputus."Setelah Maghrib sekitar pukul 18.30 WIB, getarannya kuat, saya saja di lantai satu sampai lompat. Listrik mati sekitar 15 menit," urainya.Kejadian itu juga telah menyebabkan lift di kantor BPPT mati. Ahmad mengatakan ada seorang ibu-ibu pegawai BPPT yang terjebak di lift.Ahmad juga mengaku dirinya sudah tidak berani lagi lewat di depan proyek pembongkaran karena khawatir kejatuhan material bangunan yang dibongkar. "Udah nggak berani lewat trotoar. Selama ini udah nggak lagi," akunya.Pengamanan di trotoar dinilai Ahmad tidak cukup. Ia pun meminta lebih baik trotoar ditutup untuk mencegah jatuhnya korban pejalan kaki."Jaring pengamannya kayak jaring tempat tidur. Getarannya kuat, takut ambruk. Pengamanannya lebih baik ditutup saja sementara," usulnya.Terkait:Warga Pela Mampang Demo Apartemen Marbella
(gah/nrl)











































