Sudah Ganti Rektor, Kekerasan di IPDN Tetap Lanjut Terus
Kamis, 21 Jun 2007 09:57 WIB
Jakarta -
Atas nama penghentian kekerasan, jabatan Rektor IPDN dicopot dari I Nyoman Sumaryadi dan diberikan ke Johanis Kaloh. Tapi ternyata jurus itu tidak ampuh.Kekerasan terhadap praja IPDN tetap lanjut terus dan terulang lagi. Jurus bongkar pasang nama rektor sama sekali tidak mempan."Saya pikir mengatasi masalah kekerasan di IPDN tidak cukup dengan mengganti rektornya saja. Rektor itu kan cuma simbol, tapi kekerasannya bisa jalan terus. Artinya kan tidak ada efek jera," ketus anggota Komisi X DPR Masduki Baidowi kepada detikcom, Kamis (21/6/2007).Hal itu, kata Masduki, disebabkan unsur kekerasan dalam IPDN sudah terlampau sistemik. Sehingga perombakan yang dilakukan harus bersifat total."Selain perombakan pada sistem kurikulum, juga pada sumber daya manusia. Harus ada sanksi tegas terhadap pelaksana IPDN yang melakukan kekerasan," kata politisi PKB itu.Menurut Masduki, tim pelaksana evaluasi penyelenggaraan pendidikan IPDN sudah merekomendasikan banyak hal. Namun tidak demikian dengan implementasinya."Jadi persoalannya, bagaimana supaya rekomendasi itu dilaksanakan sungguh-sungguh. Bukan cuma soal gonti ganti rektor," ujarnya.Pada 15 Juni 2007, seorang praja IPDN tingkat III atau Nindya Praja (sebelumnya ditulis tingkat IV atau Wasana Praja) bernama Yogi Riyad (21) mengalami luka di mata kanannya. Berdasarkan hasil visum RS Cicendo Bandung, kornea Yogi robek, penglihatannya dalam jarak 10 cm sudah terlihat samar.Sumber di lingkungan IPDN menyebutkan Yogi mendapatkan luka itu akibat dipukul seorang pengasuhnya yang berinisial M, usai melaksanakan apel di kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
(fiq/sss)










































