Perangi AIDS, Perlu Belajar Kesehatan Reproduksi Sejak SD
Rabu, 20 Jun 2007 14:22 WIB
Jakarta - Masalah seksualitas masih kerap dianggap tabu dibicarakan di masyarakat. Padahal, masalah kesehatan reproduksi yang tentu saja berkaitan dengan seksualitas, penting dipelajari."Seksualitas dianggap sebagai racun berbahaya di masyarakat," cetus Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Fasli Jalal.Hal itu disampaikan dia dalam workshop "On Challenges in Integrating HIV/AIDS in Secondary School Curriculum Through Innovative Approaches' di Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (20/6/2007).Menurut Fasli, pentingnya mempelajari kesehatan reproduksi karena perkembangan HIV/AIDS, khususnya di Indonesia, sangat berhubungan dengan seksualitas. Sayangnya, masyarakat bersikap masa bodoh dan malah mengatakan AIDS adalah hukuman bagi mereka yang suka 'jajan'. Padahal tidak selalu demikian adanya."Karena itu, perlu pembelajaran kesehatan reproduksi sejak dini. Kesehatan reproduksi penting bagi pendidikan akhlak dan budi pekerti anak," terang Fasli.Sejak duduk di bangku SD, lanjut dia, ada baiknya sudah dikenalkan kesehatan reproduksi, dimulai dari hal-hal kecil. "Misalnya, mengenalkan kenapa laki-laki dan perempuan berbeda. Lalu kenapa pubertas muncul, kenapa laki-laki suaranya berubah. Itu perlu didialogkan kepada anak," jelasnya.Ditambahkan Fasli, perkembangan informasi itu harus disesuaikan dengan psikologis anak. Untuk itu, saat ini yang penting adalah melahirkan modul-modul pelajaran kesehatan reproduksi untuk guru."Tidak perlu mata pelajaran khusus, tapi bisa diintegrasikan ke mata pelajaran yang berhubungan seperti IPS, pelajaran kesehatan, biologi, ataupun sosiologi," tukas Fasli.
(nvt/sss)











































