Lu...Gue Membanjiri Singapura
Rabu, 20 Jun 2007 13:45 WIB
Singapura - Di bulan liburan ini, sudah bisa ditebak, orang Indonesia membanjiri Singapura. Apalagi negeri pulau itu tengah menggelar The Great Singapore Sale 2007. Pesta belanja itu jelas menjadi magnet bagi orang berduit Indonesia yang terkenal maniak belanja. Event yang datang setahun sekali ini jelas tidak disia-siakan.Begitu menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan Takasimaya di Orchard Road, Selasa (18/6/2007) malam, suara-suara yang tertangkap telinga sudah tidak asing lagi. Lu-lu... gue-gue... terdengar di mana-mana.Kalau tampang-tampang Melayu, kita memang tidak terlalu sulit membedakan mana yang orang Indonesia dan warga Singapura. Namun kalau tampang keturunan -- 70 persen penduduk Singapura dari etnis Cina -- kita agak sulit membedakan. Tapi begitu mereka bicara, nah ketahuan deh asalnya. Di pusat perbelanjaan yang tidak berbeda jauh dengan Metro Pondok Indah itu, setiap 5 meter kita bisa menemukan orang-orang asal Indonesia yang mengejar barang-barang bermerek yang didiskon. Belanjaan mereka bisa dua keranjang lebih, belum lagi tas-tas belanjaan dari toko lainnya. "Iki tase apik yo, neng Indonesia durung ono (Ini tasnya bagus ya, di Indonesia belum ada)," ujar seorang ibu dengan logat Jawa medoknya kepada temannya. Begitu diiyakan temannya, si ibu langsung memasukkan sebuah tas bermerek ke keranjang belanjaannya. Di keranjang itu, sudah menumpuk baju-baju bermerek aneka mode.Tidak hanya baju dan tas, payung pun jadi sasaran shopper Indonesia. "Duh lucu banget payungnya. Ini jarang-jarang nih di Indonesia," kata Dewi, karyawan sebuah BUMN di Jakarta sambil asyik memilih payung diskonan dengan berbagai macam model di lantai dasar pertokoan itu. Dewi lalu memilih satu payung seharga 20 dolar Singapura atau sekitar Rp 116 ribu.Belum puas belanja di pertokoan sekitar Orchard yang rata-rata tutup pukul 22.00 waktu setempat bukan halangan bagi shopper Indonesia.Mustafa Center di Jalan Syed Alwi yang buka hingga 24 jam jadi sasaran berikutnya. Di pusat pertokoan yang berada di kawasan Little India ini, jumlah shopper Indonesia juga tidak kalah banyaknya.Seperti halnya di pusat pertokoan elit di Orchard, di sini pun teriakan lu-lu... gue-gue... kerap terdengar. Bahkan setelah pukul 23.00, rasanya yang belanja tinggal orang-orang Indonesia saja. Lelah dan kantuk bukan penghalang bagi mereka. Para shopper terbius barang-barang bermerek dan cindera mata khas Singapura. Ke luar Mustafa Center, tentengan mereka bisa lebih dari 3 plastik. "Kayaknya besok malam harus ke sini lagi. Banyak yang belum kebeli," cetus Risma.Kegilaan belanja orang-orang Indonesia memang sudah terkenal, terutama di negeri jiran itu. Tidak aneh jika jadwal ajang sale besar-besaran di Singapura itu sudah dikantongi sejak jauh-jauh hari.Padahal kalau dihitung-hitung harga barang yang sudah didiskon pun masih terhitung mahal. Untuk tas tidak ada perbedaan mencolok. Tas merek Kipling, misalnya, setelah didiskon hingga 50 persen pun harganya masih tetap di atas Rp 400-Rp 500 ribu. Namun bagi shopper mania, harga bukan masalah.Tidak aneh kalau Singapura membidik orang-orang berduit Indonesia lewat kemasan promosi yang aduhai. Sebab nilai belanjaan mereka memang cukup menggiurkan.Data yang dilansir Singapore Tourism Board, sepanjang tahun 2006 tercatat 1,92 juta wisatawan Indonesia dari jumlah total 9,7 juta wisatawan. Ketika GSS digelar tahun lalu, selama delapan minggu tercatat 360.000 wisatawan Indonesia datang ke Singapura. STB memperkirakan setiap orang Indonesia rata-rata mengeluarkan 800 dolar AS atau sekitar Rp 7 juta untuk berbelanja dan makan. Angka ini belum termasuk biaya transportasi dan penginapan. Ini berarti sedikitnya Singapura mengantongi 228 juta dolar AS dari shopper Indonesia. Fantastis!
(umi/nrl)











































