Kategorisasi Sekolah Bikin Biaya Pendidikan Mahal

Kategorisasi Sekolah Bikin Biaya Pendidikan Mahal

- detikNews
Selasa, 19 Jun 2007 14:13 WIB
Jakarta - Masyarakat banyak yang mengeluhkan biaya pendidikan yang dirasa semakin mahal. Kategorisasi sekolah dituding sebagai pemicu mahalnya biaya pendidikan."Sekarang kan ada kategori sekolah percontohan, nasional, internasional, dan reguler. Kategorisasi sekolah berdampak langsung pada pembiayaan," ujar Ade Irawan dari Aliansi Orangtua Peduli Transparansi Dana Pendidikan ICW.Hal itu disampaikan dia dalam keterangan pers monitoring penerimaan siswa baru (PSB) di kantor ICW, Jl Kalibata Timur, Jakarta, Selasa (19/6/2007).Hal itu diperparah dengan lemahnya posisi orangtua siswa ketika bertemu pihak sekolah. "Posisi ini menyebabkan rawannya penyimpangan di penerimaan siswa baru," imbuh Ade.Menurutnya, ada tiga fase rawan dalam penerimaan siswa baru. Fase itu adalah saat sebelum penerimaan, setelah murid diterima, dan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung selama 1-2 bulan."Dari fase itu, yang paling rawan adalah setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung. Biasanya sekolah melakukan pungutan karena tidak ada lagi yang melakukan pengawasan," jelas Ade.Ade melanjutkan, orangtua murid juga harus membayar sejumlah biaya yang telah ditetapkan sekolah. Bila pembayaran tidak dilakukan, maka siswa yang bersangkutan akan dikeluarkan. "Padahal pendaftaran di sekolah lain jelas sudah tutup," imbuhnya.Program Officer Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marjinal Fitriani mengatakan, komersialisasi pendidikan telah terjadi. Hal itu terlihat antara lain, di setiap sekolah kuota pendaftarnya dua kali dari yang diperlukan."Karena kuotanya dua kali, maka yang diterima setengahnya saja, dan ini terjadi tiap tahun," cetus Fitriani.Dia pun menuturkan kejadian mengada-ada yang dilakukan SD 09 Kalibaru Jakarta Utara. Saat pendaftaran siswa baru, orangtua Nurbaitilah menyertakan berkas kartu keluarga (KK)."Karena KK-nya tidak diketik, Kepala Sekolah SD 09 Kalibaru, Syarif, malah bilang itu KK tembakan. Malah bapaknya calon siswa dianggap mencemarkan nama baik kepala sekolah. Anaknya sekarang juga tidak diterima," beber Fitriani. (nvt/sss)


Berita Terkait