TPM: Datangkan Hambali & Farouk ke Indonesia

TPM: Datangkan Hambali & Farouk ke Indonesia

- detikNews
Sabtu, 16 Jun 2007 12:43 WIB
Jakarta - DPR harus cepat menindaklanjuti penangkapan Abu Dujana dan Zarkasih. DPR harus mengupayakan langkah politis medatangkan Hambali dan Umar Farouk ke Indonesia. "Bicara tokoh terorisme kan jelas kaitannya dengan Al Qaedah, lebih baik sekarang carikan akses mendatangkan Umar Farouk dan Hambali agar disidangkan di Indonesia. Coba DPR bicarakan, ini memang langkah politik," kata anggota TPM, Ahmad Midhan. Desakan di atas disampaikannya dalam diskusi bertajuk "Menakar Ancaman Terorisme Pasca Penangkapan Abu Dujana", di Jakarta (16/6). Keterangan langsung dari Umar Farouk dan Hambali jelas sangat dibutuhkan untuk mengungkap jaringan terorisme di Tanah Air. Agar para tokoh intelektual segera dapat diketahui dan menjawab kebingungan masyarakat atas munculnya nama baru yang selalu disebut polisi sebagai pemeran kunci. "Dulu Noordin M. Top dan Azahari yang disebut paling berbahaya. Menjelang Abu Dujana tertangkap, dikatakan sebagai orang yang lebih berbahaya dari mereka. Lalu ada Zarkasih sebagai atasan Abu Dujana. Kami jadi bingung," ujarnya. Hepi Bone Zulkarnen, anggota Komisi I DPR-RI, sependapat dengan padangan di atas. Menurutnya penangkapan Abu Dujana dan Zarkasih harus dapat dijadikan titik masuk upaya membongkar terorisme yang sesungguhnya dan berkesinambungan. "Umar Farouk dan Hambaili memang harus dibawa ke sini. Kalau tidak, pemberantasan terorisme tidak akan nendang," ujarnya. Orang Lama Pada kesempatan sama, Kabdi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Sisno Adiwinoto, membantah pernyataan Ahmad Midhan yang menyebut Zarkasih dan Abu Dujana sebagai nama baru. Indentitas petinggi kelompok teror itu telah diketahui sejak kasus bom Marriot. Hanya memang baru dapat diungkap setelah mereka ditangkap.Bila ada klien TPM mengaku tidak mengenal dua tokoh itu, menurutnya bukan suatu hal yang mengherankan. Sebab memang demikian ciri khas dari kelompok-kelompok yang meski saling terhubung tapi tidak pernah benar-benar berhubungan secara langsung. "Kita sudah lama mendalami, memonitor dan mengikutinya. Dia bukan teroris baru, mereka bermain sejak lama. Tapi kita sengaja mengumpulkan fakta hukum, menangkap dan baru mempublikasikan," ujar Sisno. (lh/djo)


Berita Terkait