Tarik 'Modal' di Parpol, Kandidat Cawagub DKI Aneh
Sabtu, 16 Jun 2007 10:49 WIB
Jakarta - Niat sejumlah kandidat cawagub DKI Jakarta menarik kembali 'modal' yang sudah disetor ke parpol dinilai aneh. Mereka seharusnya sadar ini risiko yang harus ditanggung.Hal tersebut diungkapkan pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf saat berbincang-bincang dengan detikcom, Sabtu (16/6/2007)."Itu (setoran ke Parpol) risiko menjadi seorang calon dan ini seharusnya sudah dipertimbangkan betul. Jangan mikir kalau gagal mau menarik lagi, enak banget kayak begitu," kata Maswadi.Maswadi menambahkan, tindakan parpol meminta 'modal' kepada para kandidat memang sesuatu yang tidak wajar. Namun, sambungnya, hal ini terjadi karena kondisi yang saling membutuhkan. "Kalau ngomong diperas aneh, dia mau sendiri jadi kandidat. Mereka harus merelakan (modalnya). Sebab bukan mereka saja yang menjadi 'korban'. Inilah kalau bisnis dianggap politik, semua rusak," tutur Maswadi.Seperti diberitakan sebelumnya, Mayjen Purn Slamet Kirbiyantoro dikabarkan berniat meminta kembali sejumlah uang yang disetor ke parpol di Koalisi Jakarta, saat dia mengikuti seleksi cawagub pendamping Fauzi Bowo. Kirbi telah menyetorkan sekitar Rp 1,5 miliar. Selain ke PDIP, Kirbi juga mengikuti penjaringan di PPP, PBB, dan parpol lain. Hal yang sama juga diungkapkan pensiunan jenderal lainnya, Asril Tandjung. Mantan Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat (Kaskostrad) ini juga berencana menagih kembali 'mahar' yang telah disetorkannya ke parpol.Kabarnya, pensiunan jendelar bintang dua ini telah menyetor Rp 3,7 miliar ke PDIP. Selain PDIP, parpol lain yang dilamar Asril adalah Partai Golkar, PPP, PBB, dan PBR. Begitu pula dengan mantan Danpuspom Mayjen (purn) Djasrie Marin. Konon pria berkumis ini telah menghabiskan Rp 2 miliar selama mengikuti mekanisme penjaringan cawagub DKI di PDIP dan PPP.
(djo/djo)











































