Korban Berjatuhan dalam Pembongkaran Gedung Lama Depag
Jumat, 15 Jun 2007 15:19 WIB
Jakarta -
Gedung Departeman Agama (Depag) yang terletak di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, dibongkar. Dalam pembongkaran tersebut dikabarkan banyak buruh yang mengalami kecelakaan.Kabar yang diperoleh dari salah satu petugas satpam di sekitar kawasan itu, jumlah pekerja yang tewas akibat kecelakaan kerja di gedung tersebut cukup banyak. "Sudah ada 5 orang," katanya.Saat detikcom mendatangi lokasi, Jumat (15/6/2007), tidak banyak keterangan yang bisa digali dari para pekerja soal kabar kecelakaan itu. Tapi ada seorang penjaga warung yang membenarkannya."Wah nggak ada Mas kalau yang sampai pingsan atau dirawat. Tapi paling-paling luka ringan, kayak terkilir atau lecet-lecet," ujar penjaga warung yang tidak mau menyebutkan namanya itu pada detikcom.Penjaga yang membuka warung di lokasi pembongkaran itu menyatakan para pekerja sudah berusaha melakukan upacara menolak nasib buruk. "Ya seminggu sekali gitu kita zikiran, untuk tolak bala," tuturnya.Tapi apa yang terjadi.... Baru saja selesai mewawancarai penjaga warung, tiba-tiba dari arah puing-puing bangunan terlihat keramaian. Seorang pekerja mengalami kecelakaan.Dia digendong kawannya menuju pos jaga untuk mendapat pengobatan lebih lanjut. Telapak kakinya berlumuran darah akibat tertancap besi yang jatuh dari atas sisa-sisa bangunan.Di pos jaga, pekerja itu tidak ditangani secara medis karena tidak ada perlengkapan P3K. Pekerja malang itu dibantu rekannya untuk membersihkan noda-nada darah di telapak kaki. Si empunya kaki cuma bisa meringis kesakitan. Akhirnya pekerja malang itu dibawa temannya ke rumah sakit untuk diberi pertolongan pertama.Pantauan detikcom, para pekerja yang berjumlah sekitar 80 orang tersebut tidak dilengkapi peralatan pengaman yang cukup memadai saat bekerja. Mereka hanya mengenakan kaos dan celana lusuh tanpa helm atau sepatu tebal.Sisa-sisa reruntuhan pun tidak dilengkapi dengan jaring pengaman untuk menghalangi puing yang bisa saja jatuh menimpa pekerja. Jika pengamanan itu disediakan kemungkinan pekerja malang tadi tidak celaka. Lebih parahnya, tidak ada prosedur pengamanan yang mumpuni. Bayangkan, ketika salah satu pilar penyangga bangunan dihancurkan backhoe ada sekitar 10 pekerja yang berada di dalam reruntuhan. Tidak ada mandor atau pengawas proyek yang melarang, semuanya tampak tidak peduli.
(gah/umi)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































