Melongok LP Anak Perempuan (6)
Jangan Lupa Salam Tempel
Jumat, 15 Jun 2007 09:19 WIB
Jakarta - Di mana pun, menjadi narapidana (napi) harus bermodal. Selain membayar fasilitas kamar, penjenguk napi harus "berbagi rezeki" dengan sipir penjara.Sumairah (43) mesti merogoh koceknya dalam-dalam jika hendak menjenguk buah hatinya, Sarah (19) di LP Anak Perempuan Tangerang. Padahal di pintu masuk tertulis "Membesuk Tidak Dipungut Bayaran." Salam tempel ini tentu harus dilakukan diam-diam, tidak boleh mencolok."Sepuluh ribu. Kalau tiga sipir yang jaga yang tinggal dikalikan. Apalagi kalau bawa makanan, uang tipnya nambah sepuluh ribu," kata Sumairah.Bahkan, ketika baru pertama masuk, ia dikutip sejumlah uang. Jumlahnya Rp 200.000 yang menurut petugas untuk biaya administrasi dan kelengkapan fasilitas kamar. Sebelumnya, ketika masih menjadi tahanan titipan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur, ia merogoh kocek Rp 400.000 untuk memperoleh kamar yang "lebih nyaman"."Fasilitas apanya. Ujung-ujungnya ya saya harus beli kasur tipis dan selimut. Kamarnyakan hanya berlantai semen. Kasihan daripada masuk angin. Makanan pun tidak ada yang istimewa. Cuma tahu tempe. Sesekali pakai telor. Tapi syukur, setelah enam bulan sudah mulai menyesuaikan. Sekarang saja sudah agak gemukan daripada pas masuk," ucap Sarah mencoba tetap tersenyum.Untungnya, seorang ibu penjaga di blok Sarah, cukup baik. Sesekali Sarah dipinjami telepon genggam untuk mengirim SMS ke keluarganya. Namun tetap saja dia harus mengganti dengan transfer pulsa yang nilainya tidak mau disebutnya."Tiap kali saya mau membesuk, pasti di SMS dulu, ingin dibawain apa. Temen-temennya juga nitip. Ada yang minta mie sekardus atau nasi padang," ujar Sumairah tanpa merasa dimanfaatkan.Sarah merupakan salah satu dari sekian tahanan anak perempuan yang harus merelakan kebebasanya tergadaikan di usia muda. Dia tinggal di LP bercat hijau muda yang tampak kukuh itu bersama puluhan anak perempuan lain yang terjerat berbagai kasus kriminalitas, mulai pengutilan, pemukulan hingga narkoba."Anak saya dijebak oleh temannya yang membawa ineks dua butir. Kena 2 tahun. Tapi dapat remisi-remisi, jadi setahun tujuh bulan saja," kata Sumairah bersyukur.Dan memang, kebebasan tak hanya mahal harganya, tapi juga dalam maknanya. Ketika Sarah menyusuri lorong blok-blok meninggalkan sel menuju udara bebas, teman-temannya melepas dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa berat meninggalkan kawan sependeritaan yang telah menyusuri minggu demi minggu bersama, menghitung hari, menatap kemerdekaan. Satu persatu teman Sarah memeluk erat menghantar kebasan. Tak ada isak tangis, tanpa air mata berlinang. Semua tampak dingin dalam kebekuan hati yang sulit terucap.Ke mana Sarah pertama kali melangkah di hari pertama bebas? "Ke laut, diceburin untuk buang sial," seloroh Sumairah enteng.
(Ari/nrl)











































