Sekolah yang Bikin Badan Pegal

Melongok LP Anak Pria (1)

Sekolah yang Bikin Badan Pegal

- detikNews
Jumat, 15 Jun 2007 07:25 WIB
Jakarta - Dulu Raju, sekarang Doni. Karena ketiadaan sel untuk anak, Raju yang terlibat perkelahian dengan teman SD-nya, ditahan bersama napi dewasa. Di Bali, belum lama ini Doni Ardiansyah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan setelah seorang teman sekelasnya meninggal dunia beberapa jam usai berkelahi dengannya. Doni memang belum ditahan seperti Raju. Tapi cerita Raju yang telah berlalu dan Doni yang bisa jadi akan mencium bau sel, membawa imajinasi kita pada bayangan seperti apa sih LP Anak itu? Apakah menyeramkan? Apakah tidak jauh beda dengan LP Dewasa? Di Jakarta, narapidana anak-anak menghabiskan masa pidana di LP Anak di Tangerang. Reporter detikcom Ari Saputra mengunjungi LP itu pada Rabu 13 Juni 2007. Berikut laporannya:***Bangunan tua peninggalan Belanda itu masih kukuh. Dinding tebal memberi garis karakter kuat berpadu dengan pintu lebar berkayu keras. Sementara kedua pilar penyangga pintu utama itu memberikan kesan 'ningrat' yang sangat kuat.Untunglah pilihan warna cat tembok yang cerah - kuning dan oranye - berhasil menyembunyikan kesan suram bangunan kuno. Terlebih, genteng bangunan sudah diganti dengan model terkini yang seolah menutupi usia gedung yang kini menginjak 79 tahun."Saya nggak nyangka ini tahanan. Kayak bentuk sekolah saja, luas, ada lapangan bola di depan dan tidak ada menara pengintai di sudut bangunan," kata Nanik (29) memberi kesan sewaktu pertama kali mengunjungi Lapas Anak Pria Tangerang, di Jl Daan Mogot 29 C, Tangerang, Banten, Rabu (13/6/2007).Ya, gedung yang ditemani dua pohon beringin besar itu merupakan LP Anak bagi tahanan pria. Usia yang berada di tahanan itu rentang 8 tahun hingga 18 tahun. Pintu bilik sel berukuran 5x7 meter masih berjeruji besi dengan jendela ukuran 40x30 cm berteralis kuat.Sedikitnya, terdapat delapan blok yang masing-masing blok terdiri 3-4 bilik di antaranya Blok Flamboyan (46 anak), Belimbing (36 anak) dan Herba (35 anak). Satu bilik berisi 8-10 anak-anak. Sementara antar blok dipisahkan pagar besi setinggi 2,5 meter yang dicat warna-warni. Di tengah bangunan seluas 3.553,60 m2 itu, terhampar taman dengan ornamen rumput sebagai central view."Tapi tetap saja kamarnya kurang manusiawi untuk ukuran anak-anak. Nggak ada kasur empuk, hanya tikar tipis yang dipakai bersama-sama," celoteh Nanik yang hendak membesuk anaknya, Anto (16).Selain itu, kapasitas penghuni sejumlah 220 anak, harus menggelembung menjadi 269 anak. Praktis, kondisi ini mengharuskan anak-anak berbagi penderitaan dengan berjejal di bilik sel."Kadang tangan sering kesemutan tertindih badan teman. Bangun-bangun tubuh terasa pegal-pegal," tutur seorang napi bocah, sebut saja Ramli (18), salah satu tahanan anak yang tengah menunggu hari-hari kebebasan dengan ikut bekerja bangunan memperbaiki tempat parkir motor LP. (Ari/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads